PUISI

19 Des

 

3 nov 10

De javu

Lintasan kehampaan pada rasa

tak pernah malu meradang

Luluh lantak akan waktu

Lari bebas mengejar

Lalu kembali

Yang ada hanya air kenistaan

Membasahi kekalutan batin

 

Aku hanya bisa bicara

 

Aku hanya bisa bicara

Pada daun yang selalu menjawab dengan guguran kering

Pada dahan yang hanya bisa tertunduk malu

Pada angin barat seolah berharap semua patuh padanya

Tapi, sang mawar  hanya berpesan jagalah duri kehormatanmu

Dan aku hanya bisa bicara

Pada edelweis yang abadi

Setengah berbisik ku berkata andaikan karang itu di laut telah tepecah ombak

 

 

 

 

 

 

5 nov 10

yakin

 

Aku berdiri pada harapan

Percaya kerisauan kan sirna

Seolah ia menoleh padaku,

Tatapan menuju langit biru

Membiru, membekas pada bathin

 

Aku coba berpikir akan mentari

Akankah pancarannya membawaku pada angan

Aku juga bertanya pada bulan

Tidakkah lelah mencuri dari sang bintang

Semua mengajariku bagai karang yang tak pernah lebur

 

petang 1

senja kebebasan melingkar  erat

langkah kayuhan tertancap

tajam, menghujam

pilu terbang bersama asa

tanpa senyum berwarna

menghamburkan kelu

 

 

petang 2

lelah menggelitik

menarik sauh setinggi-tingginya

seteguk ramuan ajaib terbagi

merpati jingga menggelitik

karang tergeletak hampa

 

 

Permohanan

 

Embun terdengar merintih

Merebahkan layu

Datang menghampiri,  dengarkan aku

Kembalikan dahaga perasaan

Yang telah tersesat pada gelapnya pagi

Hamparan pengampunan merekah

Mengundang pergulatan batin

Sebelum raga berguguran

 

 

fatamorgana

 

Siluet kemenangan terpancar

Bercumbu pada keranda ilusi

Terpana akan langit pekat

Mengikat, menghardik tak terperi

Pada hitamnya takdir

Kelamnya sukma

Fajar yang berbisu

Tercabik-cabik meluluhkan kebimbangan

 

 

 

Mendekap   Rindu

 

Ingin jauh

Dalam keresahan

Tanpa hijab membelenggu rasa

Yang tiada terlabuhkan

Bersarang pada  karang kegelisahan

Hanya satu janjinya

Saat semuanya ragu

menjelma memenuhi sukma

Menembus naluri kepasrahan

sambil tertunduk sayu

mengukir rona-rona kekuatan

bak singgasana keagungan

menyelimuti kegelapan

datang bersama harapan

titisan embun pagi

menyambut indahnya kehadiran

Sang pemilik Takdir

 

 

 

 

 

 

 

Monolog senja

aku rindu ranting-ranting memelas gerah

pada  embun menggigil

peluh di atas alang-alang fatamorgana

merangsang pada muara

menahan angin berseteru

penat melambung harapan

terpasung gerah

Cerminan jiwa

Di balik cermin itu

Masih melekat jiwa-jiwa kedamaian

Wajah yang tidak bisa kukenali

Dia membawa syair-syair motivasi

Dia begitu terlihat indah

 

Bersama lahirnya untaian kegalauan

Tersirat kilauan kemenangan

Gerak melambat tanpa kata henti

Merintih meratapi

Yang terpecah akan menjadi utuh

Senyuman merekah mengantarkannya

Pada apa

Pada siapa

Yang tertunduk malu menunggunya

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: