MANUSIA MENURUT ISLAM

20 Des

PENDAHULUAN

Sejak dulu, perbincangan mengenai dari mana asal muasal manusia selalu menjadi bahasan yang menarik. Hingga saat ini masih terlalu banyak yang tak diketahui manusia tentang dirinya sendiri. Pencarian ini seolah akan menjadi misteri hingga akhir zaman. Hanya Sang Pencipta yang mengetahui dari manakah asal muasal manusia.

Alqur`an, yang merupakan petunjuk dari Sang Pencipta untuk ciptaanNya berisi banyak pengetahuan yang dapat dipelajari oleh manusia. Salah satu pengetahuan yang terdapat di Alqur`an adalah mengenai asal muasal manusia. Namun, kitab yang diturunkan sekitar 15 abad yang lalu ini seolah-olah tidak lagi sesuai bahkan bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di zaman ini. Akibatnya, hal tersebut melahirkan perdebatan di antara manusia. Di satu pihak, manusia meyakini dan mempertahankan kebenaran kitab suci Alqur`an, sedangkan di pihak lain di pihak lain manusia meyakini kebenaran ilmu pengetahuan (sains). Akhirnya, terjadi semacam pemisahan menjadi dua domain seperti dikatakan Arifullah (2004), yakni antara domain agama dan domain sains.

Perdebatan sengit mengenai asal muasal manusia semakin menjadi-jadi, ketika teori-teori hasil penemuan manusia dibanding-bandingkan dengan apa yang tertulis di kitab suci tersebut. Sebut saja salah satunya teori Darwin. Teori Darwin mengatakan manusia mencapai bentuk sekarang ini setelah proses evolusi yang panjang. Penekanannya adalah manusia berawal dari hewan yang mengalami evolusi yang panjang. Ada yang mengatakan manusia berasal dari kera. Ada pula yang mengatakan dari reptil. Jika dibandingkan secara kasat mata dengan apa yang tertulis di kitab suci Alquran, sains atau penemuan manusia ini sangat bertentangan.

Padahal, dalam ayat Al-Qur’an dinyatakan, “(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil palajaran.”

Dalam Al-Qur’an Allah mengajak manusia agar tidak mengikuti secara buta kepercayaan dan norma-norma yang diajarkan masyarakat, agar merenung dengan terlebih dahulu menyingkirkan segala prasangka, hal tabu, dan batasan yang ada dalam pikiran mereka. Manusia harus memikirkan bagaimana ia menjadi ada, apatujuan hidupnya, mengapa ia akan mati, dan apa yang terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan bagaimana dirinya dan seluruh alam semesta ini menjadi ada dan bagaimana keduanya terus-menerus ada. Selagi melakukan ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan prasangka.

Berkaitan dengan hal di atas, pada lembaran-lembaran makalah ini akan diuraikan penjelasan Al-Qur’an tentang penciptaan manusia. Penjelasan dari ”Buku Karangan Sang Pencipta” mengenai hal tersebut tentunya juga akan dibuktikan kesesuaian dan ketepatannya dengan ilmu pengetahuan (sains) mutakhir. Setelah itu, akan diuraikan pula tentang potensi-potensi yang deberikan Allah swt kepada manusia, serta uraian mengenai peran dan tanggung jawab manusia di muka bumi ini.

A. MANUSIA ADALAH CIPTAAN ALLAH

1. Penciptaan Manusia

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)

 

Ayat di atas jelas menerangkan pada kita bahwa Alquran tidak ada yang bisa diragukan lagi. Segala yang ada di dalam Alquran adalah sudah pasti benar. Kebenaran Alquran ini telah banyak terbukti oleh ilmu pengetahuan manapun. Bahkan banyak persoalan pada suatu ilmu pengetahuan yang baru terpecahkan dari Alquran. Tidak hanya ilmuwan muslim yang mengeksplor Alquran dan menjadikannya rujukan ilmu pengetahuan dan sains, tapi juga ilmuwan-ilmuwan barat yang mengembangkan teori, hukum, dan fenomena-fenomena alam yang tidak bisa dipecahkan. Alquran adalah mukjizat terbesar sepanjang masa, karena manfaatnya akan dirasakan oleh semua manusia sampai akhir jaman.

Alquran diturunkan kepada seorang Rasul yang buta huruf dan pada negeri yang cukup tertinggal dari ilmu pengetahuan. Tidak masuk akal jika menyebutkan bahwa Alquran adalah buatan Muhammad. Hal ini dikarenakan kandungan Alquran yang luar biasa banyak yang menjelaskan ilmu pengetahuan dan sains yang baru terungkap oleh alat-alat canggih jaman sekarang.

Salah satu yang Alquran jelaskan adalah mengenai teori penciptaan manusia. Bagaimana ketika manusia pertama diciptakan dan bagaimana mekanisme terbaik pembentukan jasad manusia di rahim ibunya, pembentukan ovum, sperma, dan lain sebagainya telah dijelaskan secara rinci dan detail. Pembentukan manusia ini baru terbukti oleh sains pada akhir-akhir abad ini oleh teknologi mutakhir.

Dengan demikian, tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai teori penciptaan manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang dilontarkan oleh Darwin. Alquran bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Alquran, karena Alquran sudah pasti benar.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqarah: 30)

 

Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu. Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah dan keputusanNya. Akan tetapi, satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara” kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini.

Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi.

Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut. Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi.

 

a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)

Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :

 

Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)

 

Di samping itu, Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29.

 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)

 

Selanjutnya, dijelaskan pula dalam surat Albaqarah berikut:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31)

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32)

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Albaqarah:33)

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2)

 

b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)

Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)

 

Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu:

 

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)

 

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan; “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim).

Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.

c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)

Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.

Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).

 

Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).

 

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS. Addahr: 2)

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”  (QS 96. Al-’Alaq: 2)

 

Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)). Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya.

Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy (mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran.

 

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Assajdah:7-9)”

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Athuur:21)”

 

Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu”. Selain iti beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh ebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.” (http://www.docstoc.com/docs/DownloadDoc.aspx?doc_id=36710926).

Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :

 

“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).

 

Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang spesifik. Awal penciptaan dituturkan di dalam al-Qur’an seara logis dan tegas, dengan menyatakan banyak fakta dalam penciptaan.

 

B. POTENSI MANUSIA

Tuhan kami ialah (Tuhan) yang memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Q.S. Taha: 50)

Manusia adalah materi, sesungguhnya Allah swt telah meniupkan ruh pada manusia. Ruh sendiri adalah rahasia kehidupan (nyawa) pada diri manusia. Allah swt kemudian memberikan potensi kehidupan kepada manusia yang terdiri dari naluri (insting), kebutuhan jasmani, dan akal (Abdullah, 2003; 11). Selanjutnya, Abdullah menguraikan penjelasan mengenai potensi manusia tersebut sebagai berikut.

1. Naluri-naluri

Naluri (insting) adalah potensi pada diri manusia yang mendorong manusia untuk cenderung terhadap sesuatu (benda) dan perbuatan. Juga dengan potensi ini manusia terdorong untuk meninggalkan sesuatu dan perbuatan. Naluri-naluri yang ada pada manusia dapat dilihat dari penampakan-penampakannya yang dapat dipahami oleh indera. Adapun naluri-naluri tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

Pertama, penampakan takut, senang memiliki, cinta tanah air, cinta golongan, cinta kehormatan, cinta kekuasaan, dan lain-lain adalah penampakan yang termasuk dalam naluri mempertahankan diri (gharizah baqa). Karena penampakan-penampakan tersebut mengantarkan pada aktivitas-aktivitas untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies manusia sebagai individu.

Kedua, penampakan-penampakan yang dapat dimati seperti kecenderungan seksual, keibuan, kebapakan, cinta anak cucu, kasih sayang kepada sesama manusia, kecenderungan menolong orang-orang yang membutuhkan, dan lain-lain. Semua penampakan itu termasuk naluri seksual karena panampakan-panampakan tersebut mengantarkan kepada aktivitas-aktivitas untuk menjaga kelangsungan hidup suatu spesies manusia bukan individu.

Ketiga, kecenderungan menghormati para pahlawan, kecenderugnan beribadah, perasaan kurang, lemah, membutuhkan yang lain dan lain-lain termasuk naluri beragama. Hal ini karena penampakan-penampakan ini mampu mendorong manusia untuk membahas tentang adanya pencipta Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna, yang eksistensiNya tidak bergantung pada sesuatu, bahkan eksistensi semua makhluk bergantung kepadaNya.

Naluri adalah potensi alami yang ada pada diri manusia untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan hidupnya, untuk menjaga spesiesnya, dan agar dapat mendapat petunjuk mengenai adanya al-Khaliq. Naluri itu tidak bisa terindra secara langsung. Hanya saja akal mampu mengindra eksistensinya melaluui penampakan-panampakannya.

Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan potensi-potensi tersebut sekaligus memberikan petunjuk cara menggunakannya kepada manusia ataupun hewan.

Melalui lisan Musa dalam membantah Fir`aun. Allah swt berfirman:

”Musa as berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Q.S. Taha: 50)

Maksudnya, Allah swt menciptakan kepada tipa-tiap sesuatu potensi-potensinya, dan memberinya petunjauk dengan perantaraan potensi-potensi agar dapat melaksanakan aktivitas yang bisa memenuhi berbagai insting dan kebutuhan jasmaninya.

Allah swt memberi seruanb kepada Ibrahim as:

“Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikannmu imam bagi seluruh manusia”, Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunannku”, Allah berfirman: JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim” (Q.S. al-Baqarah: 124).

Ibrahim as mencintai keturunannya. Ini merupakan salah satu indikasi dari naluri seksual (gharizatun nau). Karena kecintaan pada keturunannya menjadikan ibrahim meohon kepada Allah swt agar kepemimpinannya itu juga diberikan kepada keturunannya. Hal ini untuk memenuhi naluri seksual yang ada pada diri Ibrahim as.

Dan pada surat Yusuf, Allah swt berfirman:

”Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya (Q.S. Yusuf: 24).

Kecenderungan terhadap lawan jenis yang merupakan salah satu penampakan naluri seksual telah ada pada diri Aziz, maka ia bermaksud melakukan perbuatan amoral dengan Yusuf terdorong oleh kecenderungan ini,, untuk memenuhi naluri seksualnya.n begitu pula dengan Yusuf, tetapi karena Allah swt telah memperlihatkan kepada Yusuf sesuatu yang menahan maksudnya.

”Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepadaNya” (Q.S. az-Zuma: 8).

”Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hair) itu orang-orang bermuka masam penuh kesulitan” (Q.S. al-Insan: 10).

Bertaubat kepada Allah swt dan rasa takut akan azabNya adalah penampakan dari naluri beragama.

 

2. Kebutuhan Jasmani

”(Tuhan) yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) danb memberi petunjuk” (Q.S. al-A`la: 2-3).

Manusia adalah materi. Pada diri manusia terdapat potensi kehidupan yang terdiri dari naluri-naluri, kebutuhan jasmani, dan pemikiran. Potensi-potensi ini tetrap ada dan lenyap setelah manusia mati.

Tubuh manusia yang terindera tersusun dari bentuk, pigmen serta fungsinya. Jumlahnya bisa mencapai 200.000.000.000 (dua ratus miliar) sel lebih. Setiap sel terususun dari dinding (sel) untuk menyimpan materi sejenis selai atau agar-agar yaitu sitoplasma yang di tengahnya mengandung inti. Inti tersusun dari kromosom (pembawa sifat-sifat keturunan) yang berjumlah 46 kromosom, tidak kurang tidak lebih, kecuali pada sperma pria dan sel telur wanita.

Struktur tubuh manusia setiap individunya tidai berbeda warna, besar, atau penampakannya. Semuanya mempunyai kepala, jantung, perut, tangan, kaki, dan lainnya. Semua organ tubuh tersebut membutuhkan nutrisi dan udara. Semua organ tubuh manusia terbentuk dari sel-sel di atas. Dan semuanya membutuhkan tidur, bergerak, dan melepaskan cairan.

Potensi kebutuhan tubuh manusia kepada perkara-perkara tertentu, dan tuntutan manusia kepada perkara-perkara ini adalah potensi yang telah diciptakan Allah swt pada manusia dan potensi ini dinamakan kebutuhan jasmani yang selalu menuntut pemenuhan.

Naluri-naluri serta butuhan jasmani mempunyai segi persamaan bahwasanya keduanya merupakan potensi alami pada diri manusia seperti potensi cair pada air dan membakar pada api, dan tidak seorang pun mampu menghilangkannya selain Tuhan semesta alam.

Naluri-naluri dan kebutuhan jasmani memiliki perbedaan dari dua segi, yaitu:

a. Akibat yang Muncul jika tidak Dipenuhi

Pemenuhan kebutuhan jasmani adalah keharusan karena kalau tidak dipenuhi, akibatnya akan mengantarkan pada kerusakan. Jadi kalau manusia itu tidak makan, tidak tidur, atau tidak bernafas, maka manusia itu akan mati.

Sedangkan naluri-naluri, pemenuhannya bukan merupakan keharusan karena walaupun pemenuhannya tidak terpenuhi, tidak sampai mendatangkan kerusakan, hanya saja mendatangkan kekacauan, kegelisahan, dan kesengsaraan. Kalau manusia itu tidak memenuhi naluri beragamanya, naluri seksualnya, naluri mempertahankan dirinnya, maka ia tidak akan mati, hanya saja ia akan gelisah, resah, dan kacau.

b. Faktor Pemicu

Kebutuhan jasmani ini dibangkitkan dari dalam diri manusia sendiri. Manusia merasakan kebutuhan makan dan minumnya katika ia lapar atau dahaga sebab kebutuhan organ tubuhnya pada zat-zat yang terkandung dalam makanan dan air. Ia juga merasakan kebutuhannya pada tidur setelah ia merasa ngantuk, atau lelah, dan organ tubuhnya tidak melaksanakan fungsinya kalau ia tidak tertidur atau istirahat.

Berbeda dengan kebuthan jasmani, naluri-naluri dibangkitkan dari luar tubuh manusia. Ketika ia melihat harta yang banyak, maka bangkit rasa cinta memilikinya yang bersumber dari naluri mempertahankan diri. Ketika ia melihat mayat, bangkitlah pemikirannya tentang kelemahannya yang merupakan sebagian penampakan naluri beragama. Dan kalau ia melihat wanita cantik, bangkitlah kecenderungan terhadap lawan jenisnya.

Inilah pertalian antara kebutuhan jasmani dengan naluri mempertahankan diri karena segala sesuatu yang menutup kebutuhan jasmani manusai itu untuk menjaga kekangsungan hidup manusia.

3. Akal

”Sesunggunya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesara Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S. ar-Ra`d: 3).

”Sesunggunya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesara Allah) bagi kaum yang berpikir” (Q.S. ar-Ra`d: 4).

Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Q.S. al-Ankabut: 43).

Al-Idrak, al-Fikru, dan al-Aqlu memiliki satu makna, yaitu potensi yang diberikan Allah swt kepada manusia sebagai hasil dari adanya potensi pengikat (khasiat rabthi) yang ada pada otak manusia. Potensi ini adalah menghukumi realita, yaitu pemindahan pengindraan terhadap relaita pada otak beserta adanya informasi-informsi terdahulu yang menafsiri relaita ini.

Manusia dengan potensi berpikirnya mengungguli hewan. Allah swt berfirman:

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami, mereka itu tidak lain hanyalah sepserti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Ayat ini menunjukkan bahwa binatang ternak itu tidak bisa memahami atau berpikir. Berpikir adalah kriteria yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya, sehingga muncul definisi bahwa manusia adalah “hewan yang bepikir”. Pandai berbicara bukan hanya sekedar mengucapkan kata-kata. Karena menurut penelitian para ahli; sebagian hewan juga saling berbicara dengan bahasa mereka dan memiliki Intuisi (akal dalam kadar yang sangat rendah). Penelitian mutakhir menunjukan bahwa: otak burung mirip otak manusia, burung bisa menggunakan alat, bisa membangun sarang yang hebat, bisa belajar meniru suara disekitamya dan bisa menghitung, hewan hanya sebatas itu. Tetapi Berbicaranya manusia adalah dengan pembicaraan yang telah diolah oleh fikiran yang jernih. lnilah salah satu keunggulan manusia dibanding makhluk lain.

Tatkala tindak-tanduk dan bicara manusia itu tidak lagi mempergunakan akal pikiran, maka kemanusiaan manusia waktu itu gugur dan is kembali sebagai basyar yang hanya memiliki anggota tubuh yang membutuhkan makan dan minum serta berjalan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. lnilah sikap yang di cela oleh Allah dalam firman-Nya surat al a’raf:179 artinya: “mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tatapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu sebagai binatang temak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Jadi, ketika manusia tidak menggunakan pikiran, manusia akan jatuh pada tingkatan hewan bahkan lebih rendah dari pada itu.

 

C. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Manusia diturunkan ke dunia ini bukannya tanpa peran. Manusia sesungguhnya mempunyai kedudukan dan tugas yang telah melekat padanya, yang terbawa sejak dia dilahirkan di muka bumi ini. Kedudukan manusia yang pertama adalah sebagai Abdullah, yang artinya adalah sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh membangkang pada-Nya. Jika kita membangkang maka kita akan terkena konsekwensi yang sangat berat. Kita adalah budak Allah, karenanya setiap perilaku kita harus direstui oleh-Nya, harus menyenangkan-Nya, harus mengagungkan-Nya.

Kita ini memang budak di hadapan Allah, namun dengan inilah kita menjadi mulia, kita menjadi mempunyai harga diri, kita menjadi mempunyai jiwa, kita menjadi mempunyai hati, kita menjadi mempunyai harapan cerah yang akan diberikan Tuhan kita, karena ketaatan kita itu. Dengan kedudukan ini, maka Manusia mempunyai dua tugas, pertama, ia harus beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit maupun luas. Beribadah dalam arti sempit artinya mengerjakan Ibadah secara ritual saja, seperti, sholat, puasa, haji, dan sebagainya. Sedangkan ibadah dalam arti luas adalah melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan dengan secara vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk memperoleh keridoan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan Hadist. Dan tentunya dari makna  ibadah dalam arti luas ini akan terpancarkan pribadi seorang muslim sejati dimana seorang muslim yang mengerjakan kelima rukun Islam maka akan bisa memberikan warna yang baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia dan banyak memberikan manfaat selama bermuamalah itu.

Disamping itu, segala aktifitas yang kita lakukan baik itu aktifitas ibadah maupun aktifitas keseharian kita dimanapun berada di rumah, di kampus di jalan dan dimanapun haruslah hanya dengan niat yang baik dan lillahi ta’ala, tanpa ada motivasi lain selain ALLAH, sebagai misal beribadah dan bersedekah hanya ingin dipuji oleh orang dengan sebutan “alim dan dermawan”; ingin mendapatkan pujian dari orang lain; ingin mendapatkan kemudahan dan fasilitas dari atasan selama bekerja dan studi dengan menghalalkan segala cara dan lain sebagainya. Sekali lagi jika segala aktifitas bedasarkan niatnya karena Allah, dan dilakukan dengan peraturan yang Allah turunkan maka hal ini disebut sebagai ibadah yang sesungguhnya.

a. Sebagai Hamba Allah

Di dalam Adz Dzariyat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Kita beribadah kepada Allah bukan berarti Allah butuh kepada kita, Allah sama sekali tidak membutuhkan kita. Bagi Allah walaupun  semua orang di dunia ini menyembah-Nya, melakukan sujud pada-Nya, taat pada-Nya, tidaklah hal tersebut semakin menyebabkan meningkatnya kekuasaan Allah. Demikian juga sebaliknya jika semua orang menentang Allah, maka hal ini tak akan mengurangi sedikitpun kekuasaan Allah. Jadi sebenarnya yang membutuhkan Allah ini adalah kita, yang tergantung kepada Allah ini adalah kita, yang seharusnya mengemis minta belas kasihan Allah ini adalah kita. Yang seharusnya menjadi hamba yang baik ini adalah kita.

Allah memerintahkan supaya kita beribadah ini sebenarnya adalah untuk kepentingan kita sendiri, sebagai tanda terimakasih kepada-Nya, atas nikmat yang diberikan-Nya, agar kita menjadi orang yang bertaqwa, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [2 : 21] Dan satu hal penting yang harus dicatat adalah bahwa beribadah hanyalah kepada Allah saja, menggantungkan hidup ini hanyalah kepada-Nya saja.

Dunia ini adalah instrumen semata, yang akan berperan sebagai bahan ujian dari-Nya. Karenanya, dalam beribadah, janganlah menduakan Allah, karena hanya Allahlah satu-satunya dzat yang harus kita sembah dan ibadahi. Ingatkah kita akan apa yang wajib kita ucapkan minimal 17 kali sehari, dalam shalat-shalat kita, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, hanya kepada Allah lah kami menyembah, dan hanya kepada Allah lah kami minta pertolongan. Tiada yang lain. Karenanya, Allah tiada mengampuni jika kita mensekutukannya, menduakannya dengan yang lain. Hanya berbuat karena Allah, dan hanya meminta pertolongan kepada Allah lah yang membuat kita aman dari murkanya, dan akan mendapatkan rahmat-Nya.

b. Sebagai Khalifah

Tugas kedua manusia adalah sebagai Kalifatullahi, kalifah Allah. Segala sesuatu yang ada di dunia ini telah ditaklukkan Allah bagi manusia, Hewan, tumbuhan, binatang, bumi dengan segala apa yang terpendam di dalamnya. Allah memberikan gambaran tentang diberikannya tugas khalifah ketika berdialog dengan malaikat, dalam Q.S 2:30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.‘         Jika tugas manusia adalah sebagai seorang pemimpin, tentu ia harus dapat membangun dunia ini dengan sinergis, dapat melakukan perbaikan-perbaikan, baik antara dirinya dengan alam, maupun antara sesama itu sendiri. Karakter sebagai seorang pemimpin ini tidak dengan serta merta tumbuh dengan sendirinya, hal ini harus dimulai dari tanggung jawab yang kecil mulai dari diri sendiri menuju lingkup yang agak luas sebagai pemimpin rumah tanggga, kemudian menuju yang lebih luas lagi pada sebuah komunitas masyarakat yang dipimpinnya, hingga akhirnya menuju tanggung jawab dalam lingkup yang lebih luas lagi. Semestinya kita melakukan instropeksi kedalam diri kita, apakah saat kita mendapatkan tanggung jawab sebagai pimpinan apapun, kita telah menjalankan amanat yang diberikan itu dengan sebaik-baiknya? Apakah jika kita tidak menjalankan setiap amanat yang kita terima itu dengan baik kita bisa menyebut diri kita itu sebagai kalifah? Tentunya tidak bukan.

Oleh karena itu diri kita perlu selalu diasah untuk lebih peka lagi, lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitar kita dalam membantu sesama, bersinergi dalam segala aktifitas, peka dan ringan tangan dalam membantu orang lain baik yang kita pimpin maupun saat kita berada dalam posisi dipimpin oleh orang lain. Tanpa kepekaan dan pengasahan diri sejak awal serta menggali pengalaman sebagai seorang pemimpin yang sesugguhnya maka akan sangat jauhlah diri kita dengan sebutan “Kalifah di muka bumi”, ini seperti halnya “sipunguk merindukan bulan”, tanpa berbuat sesuatu namun mengharapkan sesuatu yang besar.

Seorang pemimpin dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, kemampuan untuk mengolah dan mengeksplorasi alam, maka sebenarnya ia tak boleh semena-mena terhadap alam dan sesama manusia yang dipimpinnya, ia harus mengelolanya dengan baik dan harus amanah dan memberikan suri tauladan yang baik.

Kepemimpinan manusia ini sebenarnya merupakan bagian dari ujian Allah, yang barangsiapa dapat melakukannya dengan baik, maka luluslah ia. “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian [yang lain] beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [6:165].

Lalu manusia ada yang menyadari tentang misi kenapa ia harus berada di dunia, lalu ia memanfaatkan fungsi kepemimpinannya dengan sebaik-baiknya, akan tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya ingkar  dan tidak mau menyadari untuk apa ia di turunkan di dunia ini, hingga akhirnya kerugianlah yang akan didapatkannya “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang-siapa yang kafir, maka [akibat] kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” [35:39].

Akan tetapi, jika fungsi kekalifahan di bumi yang diberikan Allah dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka begitu besar keberuntungan yang akan diperolehnya, sebagaimana yang dilakukan nabi Saleh kepada umatnya “Dan kepada Tsamud [Kami utus] saudara mereka Shaleh. Shaeh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi [tanah] dan menjadikan kamu pemakmurnya , karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat [rahmat-Nya] lagi memperkenankan [do’a hamba-Nya].’ [11:61] Maka hendaknya kita berhati-hati, akan amanah yang telah diberikan Allah kepada kita, karena sebenarnya setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing di sisi Allah  Pedoman Dan Bekal Manusia.

Untuk pedoman hidup manusia Allah SWT menurunkan Al Qur’an agar supaya manusia bisa mengemban amanah yang diberikan oleh Allah SWT, disamping itu juga kita juga wajib untuk melaksanakan pedoman hidup dan cara beribadah dan bermuamalah berdasarkan Sunnah Rasullullah SAW, serta ijtihad para ulama dan tabiin yang berdasarkan pada Al Quran dan Al Hadist. Bekal manusia yang dapat digunakan untuk memahami ayat-ayatNya. Allah menganugerahkan mata, telinga, akal dan hati. Dan nantinya mata, telinga, dan hati akan dimintai pertanggung jawaban Allah. Untuk apa selama ini digunakan. Inna sam’a wal abshoro wal fu’ada kullu ulaaaika ‘anhu mas’uula,
sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, tiap-tiap dari mereka akan dimintai pertangunggjawabannya.
Allah telah memberikan banyak hal kepada kita, pedoman yang berupa Al Quran, demikian pula Allah telah memberikan bagi kita bekal berupa mata, telinga, dan hati yang bisa digunakan untuk mencerna ayat-ayat Allah dan petunjuk Rasulullah SAW. Karenanya sangatlah adil jika kemudian Allah menuntut tanggungjawab kita sebagai manusia. Selama di dunia ini, apa saja yang telah
kita lakukan. Al Qur’an yang kita punya, kita gunakan untuk apa saja, apakah memang telah kita gunakan sebagai pedoman dalam keseluruhan aspek kehidupan, ataukah kita abaikan begitu saja.     Demikian pula petunjuk yang diberikan Rasul, apakah kita taati, ataukah selama ini kita hanya menggunakan Sunnah Nabi dan al Qur’an sebagai pembenar-pembenar saja dari apa yang ada pada pikiran kita. Karenanya Allah menegaskan, bahwa pertanggungjawaban manusia itu akan diminta. Akan tetapi manusia banyak yang mengira bahwa hidup ini dibiarkan begitu saja, atau barangkali ia tahu akan tetapi tidak menyadarinya, karena tertutupi penglihatannya dengan fatamorgana dunia.
Karenanya tidaklah salah jika Allah dengan pertanyaan retorisnya mengatakan :

‘Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja [tanpa pertanggung jawaban]?‘ [75:36]. ‘Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.‘ [15:92-93]. Dan ayat yang lain: ‘Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,’ [74:38].

Dalam surat Al zalzalah yang menceritakan hari kiamat Allah memberikan gambaran bahwa di hari itu, manusia akan keluar dari kuburnya dalam berbagai macam keadaan sesuai dengan amalan yang telah mereka kerjakan, “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka [balasan] pekerjaan mereka” [99:6]. ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.” (99:7-8)

Dari ayat di atas dapat kita ambil hikmah bahwa betapa Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia agar bersikap peka, meski terhadap hal yang teramat kecil sekalipun. Memang, sesungguhnya Islam sangat menekankan agar kita memperhatikan hal-hal kecil bahkan detail dalam hidup kita. Saudaraku, kepekaan memang sudah selayaknya terasah dalam setiap gerak langkah hidup
kita. Nah, jika demikian menanamkan semangat bahwa sesuatu yang kita lakukan selalu saja ada pertanggungjawabannya, dan setiap lintasan pikiran yang ada di hati kita juga diketahui oleh Allah SWT, maka barangkali harus selalu kita camkan, agar kita berhati – hati dalam berbuat dan bertingkah laku serta kita luruskan segala niat kita untuk menggapai Ridho Allah SWT semata.. Dan dihari kiamat itu Allah akan memasang timbangan yang akan menimbang amal dan dosa manusia dengan seadil-adilnya, tanpa kezaliman sedikitpun. Meski sedikit sebuah amal, maka ia akan tertimbang juga, demikian pula meski sedikit dosa yang terpercik akan ada nilai yang diperhitungkan pula. Tak kan ada yang dirugikan dalam penimbangan itu. Semuanya tergantung dari manusia, dan semuanya tergantung pada sikap kita selama di dunia. “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika [amalan itu] hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan [pahala]nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” [21:47]        Ketika manusia disidang di akhirat kelak, tak kan dapatlah ia mengelak, sebagaimana persidangan-persidangan yang ada di dunia. Jika persidangan yang ada di dunia amat ditentukan oleh saksi yang terkadang sulit didapatkannya, kredibilitas kejujuran seorang hakim, dll, akan tetapi di akhirat yang menjadi saksi adalah anggota tubuh manusia itu sendiri. Jadi tak akan ada lagi alasan, ketika tangan, kaki, mata, telinga dan semua anggota badannya menjadi saksi dan membeberkan setiap perbuatannya selama di dunia. Jadi jika demikian, artinya tak akan ada lagi bagi kita tempat berlari kecuali kembali kepada Allah dengan terus meningkatkan maraqabatullah, perasaan untuk selalu diawasi Allah. Karena memang, meski tak ada siapa jua, akan tetapi Allah akan tetap mengawasi kita segala lintasan dalam pikiran kita pastilah selalu diketahui oleh Allah SWT.

Walau kita merasa tak kan ada yang melihat perbuatan kita, tapi anggota tubuh kita akan menjadi saksi kelak di hari kiamat dari apa yang kita kerjakan. Jadi memang tak akan ada jalan lain kecuali lari kepada Allah. Semoga kita semua termasuk golongan yang diberikan keselamatan di dunia dan akhirat, amiin. Dan semoga dalam Ramadhan kali ini kita bisa mendapatkan hikmah dan berkahnya untuk bisa mendapatkan derajat tertinggi yaitu taqwa. Dan setelah Ramadhanpun tetap ada jejak kita seperti saat bulan Ramadhan kita kali ini. Wallahu ‘alam bishowab. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraakatuh KesimpulanPada umumnya manusia mempunyai tanggung jawab kepada sesama manusia terutama kepada Tuhan YME,dan semuanya tertuang dalam Al-Quran dan Hadist. Semua itu dapat dilakukan dengan cara menjalankan kewajiban yang telah ditentukan Allah SWT, seperti sholat, dan berpuasa serta kewajiban lain yang ada di dalam rukun Islam, dan apabila dilanggar akan mendapat balasan di akhirat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia, di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memuliakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan, melestarikan, dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.

Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa. Patuh kepada Allah SWT, menjadi khalifah, melaksanakan ibadah, dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya. Perlu usaha yang keras, dan semangat yang kuat ketika keimanan dalam hati melemah,dan pertanggungjawaban yang besar dari diri kita kelak di hari Pembalasan nanti atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia.

Keoptimalan peran manusia sebagai khalifah dibumi akan tercapai dengan sempurna apabila manusia dapat memanfaatkan segala pikiran hebatnya yang dianugerahkan dari Allah dengan menciptakan teknologi yang canggih dengan berdasarkan nilai-nilai keilahiyahan (sifat-sifat Allah –Asmaul Husna-) dan keislaman dengan kemampuan seni mengatur keseimbangan potensi alam dan lainnya dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang robbani yang memerintah berdasarkan Syariat Islam.

Apabila hal-hal tersebut tidak tercapai seluruhnya, maka tidak pula tercapai keoptimalisasian peran kekhalifahan manusia. Kalaupun terjadi, maka hal tersebut belum dan tidak maksimal. Jadi, pada dasarnya setiap umat manusia mengemban tugas yang maha penting untuk memerankan kekhalifhan di bumi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

Abdullah, Muhammad Husein. 2003. Mafahim Islamiyah Menajamkan Pemahaman Islam. Bngil: Al-Izza

 

Arifullah. 2004. Rekonstruksi Citra Islam di Tengah Ortodoksi Islam dan Perkembangan Sains     Kontemporer. Jakarta: Sultan Taha Press.

 

Batubara, dkk., 2009. Al-Islam Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Bandung:         Ciptapustaka Media Perintis.

 

Departemen Agama, 2005. Al-Qur`an dan Terjemahannya. Bandung: Jumanatul Ali Art.

 

http://www.docstoc.com/docs/DownloadDoc.aspx?doc_id=36710926 diakses pada september 2010 pukul 21.24 WIB.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: