PENYUSUNAN SILABUS

20 Des

PENDAHULUAN

Desentralisasi pendidikan digulirkan sejalan dengan kebijakan besar pemerintah, yakni otonmi daerah sehingga pusat-pusat kekuasaan dilimpahkan kewenagannya kepada daerah kota dan kabupaten. Dalam pendidikan, bahkan kewenangan ini menerobos batas-batas kota dan kabupaten sehingga menembus satuan pendidikan dalam rangka berbagai jenis da jenjang pendidikan. Misalnya; perubahan perubahan kurikulum dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan untuk tidak lagi menjadi tugas orang-orang pusat, tetapi merupakan pekerjaan setiap satuan penididikan secara langsung,termasuk dalam implementasinya. Oleh karena itu, dalam era desentralisasi pendidikan ini, akan terjadi berbagai variasi dan jenis kurikulum dalam setiap satuan pendidikan karena masing-masing mengembangkankurikulum yang satu sama lain boleh jadi berbeda. Meskipun demikian, perbedaan ini berpediman pada Standar Nasional Pendidikan (SNP/PP. No. 19 Tahun 2005) sehingga kemasan kurikulum yang berbeda-beda ini pada akhirnya bermuara pada visi, misi, dan tujuan yang sama sebagai mana ketentuan dari  Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Perubahan kuruikulum diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan dewasa ini, terutama dalam memasuki era globalisasi yang penuh dengan berbagai tamtangan. Lebih dari itu,, implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat menghasilkan sumber daya berkualitas yang mampu membawa masyarakat, bangsa, dan negara ke luar dari krisis multidimensi yang dialami bangsa ini.

Hal ini dimungkinkan karena KTSP memberikan kesempatan yang lebih luas terhadap guru untuk berimprovisasi, terutama dalam pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang lebih sesuai dengan kebutuhan (asas relevansi). Sekolah yang memiliki kemampuan sendiri dapat menjabarkan standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) secara mandiri serta mengembangkan silabus yang sesuai dengan kondidi dan kebutuhan sekolah setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan setempat (provinsi, kabupaten, dan kota).

PENGEMBANGAN SILABUS

A. Pengertian Silabus

Secara sederhana silabus dapat diartikan sebagai rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikemukakan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (E. Mulyasa, 2008: 132).

Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar dari suatu mata pelajaran. Silabus ini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar. Dengan demikian, pengembangan silabus ini minimal harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut: kompetensi apakah yang harus dimiliki oleh peserta didik, bagaimana cara membentuk kompetensi tersebut, dan bagaimana cara mengetahui bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi itu.

Silabus ini akan sangat bermanfaat sebagai pedoman bagi pengajar karena berisi petunjuk secara keseluruhan mengenai tujuan dan ruang lingkup materi yang harus dipelajari oleh peserta didik. Selain itu, juga menerangkan tentang kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Dengan berpedoman pada silabus diharapkan pengajar akan dapat mengajar lebih baik, tanpa khawatir akan keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya.

Silabus merupakan rincian penjabaran dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) yang minimal memuat kompetensi dasar, meteri standar, dan hasil belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan suatu mata pelajaran.

B. Komponen Silabus

Secara garis besar, Mulyasa (2008: 133) menyatakan bahwa silabus sedikitnya berisi komponen utama sebagai berikut:

  1. Kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran.
  2. Kegiatan yang harus dilakukan untukmenanamkan/membentuk kompetensi tersebut.
  3. Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik.

C. Manfaat Silabus

Silabus bermanfaat sebagai panduan bagi pengajar dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pmbelajaran, dan pengembangan sitem penilaian. Silabus merupakan sumber utama dalam pentusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun untuk satu kompetensi dasar.

D. Cara Pengembangan Silabus

Muslich menjelaskan, penyusunan silabus dilaksanakan bersama-sama oleh guru kelas/mata pelajaran, kelompok guru kelas/mata pelajaran, atau kelompok kerja guru (PKG/MGMP) pada tingkat satuan pendidikan untuk satu sekolah atau kelmpok sekolah dengan memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah (2007: 25). Adapun landasan pengembangan silabus adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nsional Pendidkan Pasal 17 Ayat (2) dan Pasal 20.

Dalam prosesnya, pengembangan silabus harus melibatkan berbagai pihak, seperti dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kota dan kabupaten, departemen agama serta sekolah yang akan mengiplemetasikan kurikulum, sesuai dengan kapasitas dan proporsinya masing-masing. Namun demikian, sekolah yang belum mampu dan memenuhi kriteria untuk membuat silabus sendiri, diperbolehkan untuk menggunakan model silabus yang dikembangkan oleh BNSP, atau bias juga mempotokopi silabus dari sekolah lain yang telah mampu mengembangkan silabus setelah mendapat perizinan.

Pengembangan silabus KTSP dapat dilakukan melalui tiga cara sebagai mana dikemukakan oleh E. Mulyasa (2008: 134), yaitu:

  1. Mengembangkan silabus sendiri; bagi sekolah yang sudah mampu mengembangkannya, dan didukung oelh sumber daya, sumber dana, serta fasilitas dan dukungan yang memadai.
  2. Mengembangkan model silabus yang dikembangkan oleh BSNP; bagi sekolah yang belum mampu mengembangkannya secara mandiri.
  3. Menggunakan atau mempotokopi silabus dari sekolah lain; bagi sekolah yang belum mampu mengembangkannya secara mandiri.

E.  Prinsip Dasar Pengembangan Silabus

Dalam implementasi KTSP, setiap sekolah diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengembangkan silabus sesuai dengan karakteristik peserta didik serta kondisi dan kebutuhan masing-masing. Agar pengembangan silabus yang dilakukan oleh sekolah tetap berada dalam koridor standar pendidikan nasional, pengembangannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan silabus.

Majjid (2005: 40) menjelaskan, beberapa prinsip dasar pengembangan silabus adalah ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, relevansi,konsisten, dan kecukupan. Sedikit berbeda, Muslich (2007: 26) mengemukakan bahwa prinsip yang mendasari  pengembangan silabus adalah ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh.

Adapun prinsip-prinsip pengembangan silabus yang termaktub dalam Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalan KTSP (Depdiknas, 2008: 7) adalah sebagai berikut:

1. Ilmiah; keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan; cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

3. Sistematis; komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4. Konsisten; adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5. Memadai; cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6. Aktual dan Kontekstual; cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibel; keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8. Menyeluruh; komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

F. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

Secara umum proses pengembangan silabus menurut BSNP (2006) terdisi atas tujuh langkah, yaitu:

1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  2. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
  3. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

  1. Potensi peserta didik;
  2. Relevansi dengan karakteristik daerah,
  3. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
  4. Kebermanfaatan bagi peserta didik;
  5. Struktur keilmuan;
  6. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  7. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  8. Alokasi waktu.

3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
  2. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  3. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  4. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

  1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
  2. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukanpeserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukanposisi seseorang terhadap kelompoknya.
  3. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
  4. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
  5. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

G. Format Silabus

Tiga komponen utama silabus yang telah dijelaskan sebelumnya masing-masing berisi/mengandung tujuh komponen yaitu, standar kompetensi dan kompetansi dasar (SKKD), materi standar, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Sesuai dengan komponen-komponen tersebut, format silabus adalah sebagai berikut:

Nama Sekolah             :

Mata Pelajaran            :

Kelas/Semester            :

Alokasi Waktu            :

Standar Kompetensi   :

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi 

Waktu

Sumber/ Bahan

H. Pengembangan Silabus Berkelanjutan

Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran),dan evaluasi rencana pembelajaran.

SIMPULAN

Kurikulum Tingkat Satuan Pnedidikan (KTSP) memberikan kesempatan yang lebih luas terhadap guru untuk berimprovisasi, terutama dalam pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang lebih sesuai dengan kebutuhan (asas relevansi). Sekolah yang memiliki kemampuan sendiri dapat menjabarkan standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) secara mandiri serta mengembangkan silabus yang sesuai dengan kondidi dan kebutuhan sekolah setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan setempat (provinsi, kabupaten, dan kota).

Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar dari suatu mata pelajaran. Silabus ini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar.

Silabus bermanfaat sebagai panduan bagi pengajar dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pmbelajaran, dan pengembangan sitem penilaian. Silabus merupakan sumber utama dalam pentusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun untuk satu kompetensi dasar. Prinsip yang mendasari  pengembangan silabus adalah ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh.

DAFAR BACAAN

Depdiknas, 2008. ”Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalan KTSP”. Buku Elektronik: http://bsnp-indonesia.org/id/?cat=8/

BSNP, 2006. ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah”. Buku Elektronik: http://bsnp-indonesia.org/id/

Majid, Abdul. 2005. “Perencanaan Pembelajaran – Mengembangkan Standar Kompetensi Guru”. Bandung: Rosdakarya.

Mulyasa, E., 2008. ”Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan – Kemandirian Guru Dan Kepala Sekolah”. Jakarta: Bumi Aksara.

Muslich, Masnur. 2007. ”Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan – Dasar Pemahaman dan Pengembangan”. Jakarta: Bumi Aksara.

Satu Tanggapan to “PENYUSUNAN SILABUS”

  1. najib Februari 22, 2011 pada 5:56 am #

    mantap bos tutorialnya… makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: