AFASIA

21 Des

Apakah afasia?

Setiap orang menggunakan bahasa. Berbicara, memperoleh kata-kata yang tepat, memahami sesuatu, membaca, menulis, dan melakukan isyarat adalah merupakan bagian dari penggunaan bahasa. Ketika satu atau lebih dari penggunaan bahasa tidak lagi berfungsi dengan baik (yang dikarenakan oleh cedera otak), maka kondisi tersebut dinamakan afasia. Afasia, A (= tidak) fasia (= bicara) berarti seseorang tidak dapat lagi mengungkapkan apa yang dia mau. Dia tidak bisa lagi menggunakan bahasa. Selain afasia, dapat terjadi kelumpuhan dan/atau masalah masalah sehubungan dengan

– kemampuan melakukan sesuatu secara sadar

– kemampuan mengamati situasi di sekelilingnya.

– konsentrasi, pengambilan inisiatif, dan kemampuan mengingat.

 

Afasia

Afasia merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf otak dengan itu akan melumpuhkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi

Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovas killer hemisfen dominan, trauma kepala atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita Afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan menulis dalam derajat berbeda.

Afasia adalah gangguan kemampuan berbahasa. Para penderita afasia dapat mengalami gangguan berbicara, memahami sesuatu, membaca, menulis, dan berhitung. Penyebab afasia selalu berupa cedera otak. Pada kebanyakan kasus, afasia dapat disebabkan oleh pendarahan otak. Selain itu juga dapat disebabkan oleh kecelakaan atau tumor.  Seseorang mengalami pendarahan otak jika aliran darah di otak tiba-tiba mengalami gangguan. Hal ini dapat terjadi melalui dua cara yaitu: terjadi penyumbatan pada pembuluh darah atau kebocoran pada pembuluh darah.

 

Terjadinya afasia

Afasia disebabkan oleh cedera otak. Penyebab cedera otak pada umumnya disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah. Kelainan tersebut juga dinamakan pendarahan otak, gangguan pembuluh darah otak, atau geger otak. Istilah medisnya adalah CVA, Cerebro (= otak)Vasculair (= pembuluh darah) Accident (= kecelakaan). Penyebab lainterjadinya afasia adalah trauma (cedera pada otak karena kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas) atau tumor otak. Otak kita   membutuhkan oksigen dan glukosa untuk dapat berfungsi. Jika terjadi CVA atau gangguan lainnya yang menyebabkan terganggunya sistem aliran darah di otak, maka lambat laun sel-sel otak di bagian tersebut akan mengalami kematian. Di otak terdapat berbagai bagian dengan fungsi yang berbeda-beda. Pada kebanyakan orang, bagian untuk  kemampuan menggunakan bahasa terdapat di sisi kiri otak. Jika terjadicedera pada bagian bahasa di otak, maka terjadi afasia.

 

Penyumbatan:

Disebabkan oleh penebalan dinding pembuluh darah (trombosis) atau penggumpalan darah (emboli) yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Dalam hal ini terjadi serangan otak.

Kebocoran:

Di pembuluh darah terdapat bagian yang lemah (aneurisma). Bagian tersebut dapat menjadi berpori-pori, selanjutnya mengalami kebocoran, bahkan pecah. Dalam hal ini terjadi pendarahan otak.

 

Permasalahan apa saja yang dapat terjadi jika mengalami afasia?

Sangat jarang terjadi seseorang hanya menderita afasia. Sering bagian otak lainnya juga ikut terpengaruh. Contoh hal-hal yang timbul sebagai permasalahan tambahan dari afasia:

– kelumpuhan separuh badan (hemiplegie, hemi = separuh, plegie =kelumpuhan). Penderita afasia biasanya mengalami kelumpuhan separuh tubuh sebelah kanan. Pengontrolan otot-otot pada satu sisi tubuh rusak. Hal ini mengakibatkan ketidakharmonisan kerja otototot tersebut.

 

– Kegagalan dari separuh jangkauan penglihatan (hemianopsie, hemi= setengah, opsie = melihat). Pada umumnya mereka dapat melihat dengan baik semua yang terletak di sisi bagian tubuh yang sehat. Segala sesuatu yang terletak di sisi bagian tubuh yang mengalami kelumpuhan, tidak dapat dilihat dengan baik.

– Ketidaktahuan akan bagaimana melakukan hal-hal tertentu (apraxie, a = tidak, praxie = melakukan). Hal-hal sederhana seperti berpakaian, makan, dan minum tidak dapat lagi dilakukan secara sadar. Seseorang yang mengalami apraxie tidak dapat melakukan sesuatu secara sadar. Misalnya jika dia diminta mematikan lilin. Padahal dia dapat secara otomatis mematikan  korek api di tangannya jika korek api itu akan membakar jari-jarinya.

– Permasalahan sehubungan dengan makan, minum, dan menelan (dysfagie, dys = tidak baik, fagie = menelan). Cedera otak dapat menyebabkan kelumpuhan otot mengunyah dan menelan, menjadi sangat sensitif atau tidak sensitif sama sekali. Hal ini menyebabkan makan dan minum sulit untuk dilakukan. Kelumpuhan dan mati rasa di bagian pipi dapat menyebabkan keluarnya ludah dari sudut mulut tanpa disadari.

– Persoalan dengan ingatan. Untuk dapat mengingat informasi, bahasa memainkan peranan yang besar. Kesulitan menggunakan bahasa mengakibatkan seolah-olah ingatan tidak lagi bekerja dengan baik. Oleh karena itu selalu tulis beberapa kata-kata kunci. Hal ini akan memudahkan penderita afasia untuk mengingat hal-hal tersebut

-Berbeda dalam merespon sesuatu. Terkadang cara merespon mereka sebelum dan sesudah mengalami pendarahan otak sangat berbeda. Mengontrol pengungkapan emosi menjadi semakin sulit dilakukan. Seseorang bisa menjadi lebih sering tertawa atau menangis. Dan untuk bisa berhenti harus dengan susah payah.

 

Manifestasi Klinis

– Ketidakmampuan untuk memahami percakapan

– Ketidakmampuan untuk membaca (aleksia)

– Ketidakmampuan untuk menulis (agraphia)

– Ketidakmampuan untuk berbicara, lumpuh otot

– Ketidakmampuan untuk membentuk huruf

– Lemah berbicara

– Perkataan yang tidak sesuai atau salah

– Ketidakmampuan untuk mengulangi pembicaraan

 

Penanganan afasia

Banyak penderita afasia pernah dirawat dalam periode tertentu di rumah sakit. Opname di rumah sakit biasanya dilakukan setelah terjadi cedera otak. Setelah keluar dari rumah sakit, banyak dari mereka yang masih membutuhkan penanganan lanjutan. Tidak selalu jelas kepada siapa mereka bisa datang untuk mendapatkan pertolongan. Dapatkan informasi dari dokter yang menangani Anda mengenai kemungkinan penanganan yang tersedia untuk Anda di lingkungan Anda. Penanganan afasia hampir selalu diteruskan ke ahli logopedia (= seseorang yang ahli dalam bidang komunikasi). Secara prinsipil setiap penderita afasia akan mendapatkan penanganan logopedia. Lamanya penanganan tergantung pada beberapa hal termasuk pulihnya afasia.

Pedoman untuk berkomunikasi

Afasia mengubah cara seseorang dalam memahami sesuatu atau bersikap. Dengan memanfaatkan secara optimal kemungkinan komunikasiyang masih ada, lingkungan penderita afasia masih bisa berkomunikasi dengannya. Seseorang yang menderita afasia berat sering hanya dapat mengerti kata-kata penting dari sebuah kalimat. Dia hanya bisa mengerti ‘kata-kata kunci’. Mengerti dengan menggunakan kata-kata kunci dapat menimbulkan salah pengertian. Pesan yang ingin disampaikan disalah artikan. Hal ini timbul dari kombinasi kata-kata kunci dengan pengetahuan umum mengenai subyek tertentu. Terkadang kita mengira bahwa kita dan penderita afasia mengerti dengan baik satu sama lain. Reaksi yang timbul kemudian menunjukkan hal yang berbeda.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: