Pendekatan Ekspresif novel Saman

23 Des


Lingkungan Sosial Ayu Utami

Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968. Ayu Utami merupakan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Sutaryo dan Suhartinah yang berasal dari Yogyakarta. Sutaryo sebagai ayah Ayu Utami bekerja sebagai jaksa, ia cukup ketat dalam mendidik anaknya untuk disiplin dan bertanggung jawab. Dalam hal ini ia sangat perhitungan terhadap anak-anaknya. Kalau ia memberikan sesuatu, pasti ia akan meminta imbalan yang seimbang dalam bentuk prestasi. Sebaliknya Suhartinah, sebagai ibu Ayu Utami yang dulu pernah bekerja sebagai guru Matematika di sebuah SMP adalah orang yang mencintai anak-anaknya tanpa batas. Baginya prestasi anak-anaknya bukanlah suatu hal yang teramat penting. Jika di lain pihak ayah Ayu Utami bisa kecewa sekali melihat anak-anaknya gagal meraih prestasi terbaik. Malah sebaliknya ia selalu siap menghibur jika anak-anaknya gagal. Kombinasi pola asuh orang tua Ayu Utami yang seperti inilah yang membuat Ayu Utami bisa tumbuh menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Ayu Utami menghabiskan masa kecil di Bogor hingga tamat sekolah dasar. Kemudian ia melanjutkan SMP di Jakarta, dan SMU di Tarakanita Jakarta.

Semasa SMP dan SMU Ayu Utami melakukan pemberontakan pada orang tua yaitu dengan tidak mau membaca buku, dan tidak mau belajar. Pokoknya meremehkan orang dewasa, meminimalkan usahanya untuk belajar. Baginya membaca buku bisa mempengaruhi hidupnya, Ia mau tetap orisinil. Namun soal membaca, Ayu Utami masih menyisakan waktu untuk membaca Alkitab. Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia merupakan penganut Katolik yang mengagumi buku-buku hasil karya Michael Ondaatje dan Budi Darma. Alkitab adalah buku satu-satunya yang ia baca mulai dari kecil sampai dewasa. Alasannya, Alkitab ditulis oleh orang banyak dengan gaya masing-masing. Ada yang bebentuk puisi, buku, dan surat menyurat. Wajarlah kalau dalam novel Saman, terdapat petikan-petikan ayat Alkitab.

Sejak kecil Ayu Utami gemar menulis. Ketika beranjak remaja, ia menulis beberapa cerita pendek yang kemudian dimuat di majalah ibukota.

Namun, bukan berarti cita-cita Ayu Utami sejak kecil memang ingin menjadi penulis. Ayu Utami mempunyai bakat melukis. Ia sering memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak pelukis pernah menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk mengadakan pameran tunggal. Itulah sebabnya, setelah lulus dari SMU Ayu Utami ingin melanjutkan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB.

Akan tetapi keinginan itu ditentang orang tua. Sebagai pelarian akhirnya Ayu Utami masuk ke Fakultas Sastra Jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI). Ayu Utami memilih UI karena tidak ingin memberatkan orang tuanya, selai lebih murah dibandingkan dengan kuliah di luar negeri, selain itu juga semua kakaknya kuliah di UI.

Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu Utami seperti kehilangan arah. Kuliah ia jalani dengan malas. Ia lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada kuliah. Akan tetapi hal itu bukan merupakan pemberontakan. Ia merasa tidak ada gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu ia tidak ingin tergantung soal keuangan pada orang tuanya. Kuliah sambil bekerja yang dilakukan Ayu Utami juga mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya hal itu tidak bisa diterima oleh ayahnya. Sifat keras kepala dan kritis Ayu Utami yang membuat ayahnya mengalah. Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pernah ia jalani. Bahkan Ayu Utami pernah menjalani dunia model setelah menjadi finalis wajah Femina tahun 1990. Kemenangan cerpennya di majalah Humor menariknya menjadi wartawan di majalah Matra. Ia akhirnya pindah ke Forum Keadilan, dan D&R).

Sejak bergabung dengan Forum Keadilan, jiwa aktivisnya tumbuh dan berkembang. Ia menentang pembredelan pers oleh pemerintah dan mengikuti pendidikan di Aliansi Jurnalistik Independen (AJI). Konsekwensinya ia akhirnya dipecat dari majalah Forum. Setelah itu ia sempat bergabung dengan majalah D&R, karena namanya sudah masuk black list, tidak boleh lagi tercantum disusunan redaksional media massa manapun. Di majalah ini ia hanya menjadi kontributor. Saat itu memang tidak ada lagi kemungkinan bagianya untuk menjadi wartawan secara terang-terangan. Ketika akhirnya ia menjadi aktivis, pihak keluarga sangat menentang. Ia sendiri sebenarnya tidak pernah berniat untuk menjadi aktivis niat utamnya adalah menjadi wartawan professional. Akan tetapi pada masa Orde Baru sekitar tahun 1993-1994, ia akhirnya terbawa arus menjadi aktivis yang memperjuangkan kebebasan pers .

Sewaktu menjadi aktivis, kedudukannya lebih sebagai kurir atau penghubung. Ia tersentuh sekali melihat teman-teman yang terlibat secara langsung di Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI). Mereka cukup lama hidup dalam persembunyian menghindar dari kejaran polisi. Biasanya ia bertugas menghubungi mereka untuk berbagai keperluan, seperti mengantar uang, pesangon, dan sebagainya. Dengan penampilannya ia bisa mengelabuhi pihak aparat, sehingga mereka sama sekali tidak curiga dengan kehadirannya.

Karena untuk ukuran seorang aktivis sosok Ayu Utami cukup bersih dan rapi. Hasilnya sepak terjangnya sebagai aktivis memang tidak pernah tercium oleh pihak aparat (http:cyberman.cbn.net.id).

Setelah melanglang ke majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC selama beberapa bulan, akhirnya Ayu Utami menemukan tempat terakhirnya yaitu Komunitas Utan Kayu. Ia masih bisa mengembangkan sayap kewartawanannya sebagai Redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. Ia merasa bahagia, bergaul dengan berbagai kalangan yang dapat memperkaya wawasannya. Di sinilah Ayu Utami melahirkan Novel Saman, yang kemudian membuat heboh di tengah masa krisis moneter (http://www.yoogee.com).

Dalam novel Saman sendiri, sebenarnya lebih sebagai akumulasi dari pengalaman Ayu Utami sebagai perempuan yang memiliki profesi sebagai wartawan dan aktivis. Ada dua hal yang ingin ia angkat di dalam novelnya, yaitu persoalan-persoalan jender dalam hal termasuk seks, dan juga persoalan-persoalan politik yang lebih umum. Ia hanya berusaha untuk jujur mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Pada masa itu, masalah seks memang masih dianggap tabu untuk diangkat ke permukaan, termasuk dalam bentuk novel. Itulah sebabnya, ketika membuat novel Saman ia malah berpikir akan menerbitkannya sendiri, karena ia takut tidak ada penerbit yang berani menerbitkannya. Ternyata prediksinya salah novel Saman malah menjadi best seller. Ini merupakan satu bukti bahwa masyarakat Indonesia sudah siap dengan hal-hal yang dianggap tabu, termasuk membicarakan seks secara terbuka (http:cyberman.cbn.net.id).

Pemaparan seks dalam Saman bukan membahas teknik persetubuhan, tetapi semata-mata mengajak pembaca untuk merenungkan kembali problematika seks yang dialami oleh pihak perempuan. Seperti isu keperawanan yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kalah. Ayu Utami bukannya menganjurkan seks sebelum menikah, tetapi menghimbau pembaca untuk merenungkan kembali isu keperawanan tersebut, supaya menempatkan isu tersebut sewajarnya saja. Karena apabila perempuan begitu memuja keperawanan, maka ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti lagi (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Dalam hal menjalin cinta dengan seseorang, Ayu Utami adalah wanita yang sangat realistis. Dalam arti, pada saat tertentu ia bisa sangat mengagumi kekasihnya dan bergantung kepadanya. Tetapi jika hubungan pada akhirnya memang harus berakhir, ia pun bisa melupakannya sama sekali. Inilah yang membuatnya tidak mengenal istilah patah hati dalam hidupnya. Sebab ia bisa berteman baik dengan mantan kekasihnya, tanpa ada lagi rasa cinta.

Soal laki-laki, secara fisik Ayu Utami suka lelaki yang berbadan tegap dan rambutnya cepak. Entah kenapa seperti itu, sebetulnya ia sebal sekali dengan militerisme, tetapi soal laki-laki ia suka yang military look. Dari segi karakter, ia tidak terlalu tertarik dengan laki-laki yang bicaranya terlalu banyak dan suka pesta. Kalau sebatas teman ia senang sekali, tetapi bukan untuk menjadi pacar. Ia suka dengan laki-laki yang military look kemungkinan karena citra laki-laki ganteng yang pertama kali ia lihat adalah Pierre Tendean, orang yang dikenal sebagai salah satu pahlawan revolusi. Seperti kita ketahui bagi orang-orang sebaya Ayu Utami, doktrin mengenai G 30 S/PKI itu kan demikian kuat. Proses pembentukannya sepertinya didoktrinasi oleh nila-nilai kepahlawanan seperti itu. Jadi, meskipun ketika beranjak dewasa apalagi setelah menjadi aktivis, ia benci sekali dengan tentara, tetapi soal laki-laki ia malah tertarik dengan mereka yang bergaya militer (http:cyberman.cbn.net.id).

Ayu Utami tidak mau menikah, itu prinsip yang kini ia pegang. Dalam buku Si Parasit Lajang, ia menuliskan 10 alasan untuk tidak menikah. Salah satunya yang menurutnya penting yaitu menikah itu selalu menjadi tekanan bagi perempuan. Meskipun kita selalu mengucapkan bahwa menikah adalah pilihan, akan tetapi dalam kenyataannya menikah itu satu-satunya pilihan. Karena, kalau tidak menikah perempuan akan diejek sebagai perawan tua, dan sebagainya. Yang pada akhirnya, membuat si perempuan menjadi berada di bawah tekanan. Ia ingin menghimbau atau mengajak atau sebetulnya bertanya kepada orang lain, kenapa kita harus menikah. Ia menunjukkan tanpa menikah pun bisa bahagia. Di satu pihak ia juga ingin menyadarkan masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan seks itu bukan hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam pernikahan sendiri bukan berarti lebih baik dari hubungan seks di luar pernikahan. Dalam hal ini, Ayu Utami melihat masyarakat kita memang munafik. Mereka menganggap seolah-olah kalau sudah menikah itu segala sesuatu menjadi beres. Padahal, banyak sekali orang yang sudah menikah tetapi masih melakukan hubungan Seks di luar pasangan sahnya. Dalam hal pernikahan, ia melihat banyak ketidakadilan yang dialami oleh perempuan (http:cyberman.cbn.net.id).

Keputusan Ayu Utami untuk tidak menikah membuat keluarga, terutama ibu sempat merasa sedih. Sampai sekarang Ibu Ayu Utami tetap berharap suatu saat akan menikah. Sebaliknya, di luar pikirannya, Bapak Ayu Utami malah menerima keputusan ini dengan enteng. Ayu Utami juga tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang ibu, menurutnya buat apa punya anak, penduduk Indonesia sekarang kan sudah padat sekali (http:cyberman.cbn.net.id).

 

Lingkungan Sosial Novel Saman

Novel Saman merupakan penggambaran kehidupan masyarakat saat novel tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, yang terjadi pada tahun 1990-an (http://www.forum.webqaul.com). Pemerintah pada waktu itu di bawah kekuasaan Soeharto. Pada masa Orde Baru muncul konflik baru yang memanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuan, pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia (http://www.geoticies.com).

Saman menceritakan peristiwa persengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi di Medan pada masa Orde Baru. Peristiwa itu membawakan pesoalan peka bagi masyarakat, yaitu akan diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit (http://www.dind-online.com). Akan tetapi masyarakat merasa tidak setuju dengan adanya perubahan ini. Hal ini mengakibatkan oknum penguasa di Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-wenang yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani penduduk Sei Kumbang dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh. Pada novel ini juga diceritakan mengenai kerusuhan yang disebabkan unjuk rasa yang memunculkan wajah rasis. Pemerintah dalam menaggapi protes dan perlawanan dari rakyat dengan menggunakan cara kekerasan yaitu adanya aksi-aksi aparat keamanan atau militer yang semakin brutal dan tidak terkendalikan. Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat keamanan atau militer telah membuka hati para aktivis untuk mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Akan tetapi LSM telah dituduh berpolitik dan mengorganisasikan rakyat miskin. Maka, pemerintah melakukan tindakan pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis-aktivis LSM.

Selain itu novel Saman juga menceritakan mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya. Saman akhirnya menanggalkan jubah kepastorannya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan dalam novel itu antara lain Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin, merupakan empat sekawan. Mereka muda, berpendidikan, dan berkarir. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta, keresahan dan pertanyaan-pertanyaan mereka dalam mendefinisikan seksualitas perempuan (http://www.forum.webqaul.com).

Novel Saman berani mendobrak tabu yang sangat kuat membebani kaum hawa. Dalam Saman, seks bukanlah bumbu cerita tetapi menjadi bagian dalam cerita itu sendiri. Dengan ringan para tokoh berbicara tentang seksualitas begitu terbuka, mereka berani menunjukkan hasratnya. Sesuatu yang selama ini dianggap tabu bagi perempuan ternyata ditampilkan dengan cukup memikat bahkan mengejutkan (http://www.kompas.com).

Keistimewaan Saman memang kemampuannya untuk bercerita tanpa beban., ia hanya asyik bercerita. Bahkan, ketika ada sisipan-sisipan pemikiran tentang Tuhan, agama, negara, hubungan mengenai ikon-ikon generasi Orde Baru yaitu generasi yang terlahir dan besar selama Orde Baru, yang dibuai dengan kelimpahan materi atau informasi dan hegemoni pembangunanisme (http://www.dind-online.com).

Dalam novel Saman tidak hanya masalah hukum dan keadilan sosial saja yang dikritik, problematika kebudayaan timur pun dibahas, terutama masalah keperawanan dan seksualitas. Novel Saman tidak hanya menuntut keadilan sosial dan peningkatan status perempuan Indonesia, tetapi juga hak seksual mereka (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Saman menceritakan tentang persoalan antara perempuan dengan seksualitas. Jika laki-laki tidak pernah merasakan ada persoalan dengan seksualitasnya, perempuan sebaliknya, karena seksualitas perempuan selalu dipertanyakan jika dia ingin terjun ke sektor publik. Laki-laki dapat dengan lugas dan terbuka mengungkapkan hasratnya dan tentu saja tidak ada orang yang akan mempertanyakan termasuk pasangannya. Namun apa yang terjadi dengan perempuan, untuk mengungkapkan perasaan sukanya pada laki-laki saja perempuan menemui kendala, masyarakat tidak mudah menerima hal tersebut inilah yang kemudian terlihat dalam Saman, yaitu bahwa perempuan memiliki hasrat yang sama dengan laki-laki itu bukanlah sesuatu yang buruk. Saman berhasil menggambarkan pemberontakan hak seksual perempuan untuk menggunakan bahasa tubuh. Saman merangkum persoalan seks dan perempuan, menggambarkan perempuan apa adanya, dan semua didefinisikan secara vulgar (http://www.kompas.com).

Seks dalam Saman bukan membahas teknik persetubuhan, tetapi semata-mata mengajak pembaca untuk merenungkan kembali problematika seks yang dialami oleh perempuan. Seperti isu keperawanan yang menempatkan perempuan pada pihak yang kalah. Perempuan dalam Saman adalah cerminan perempuan Indonesia pada tahun 1900-an, yang masih mengalami ketidakadilan dan penindasan yaitu kurangnya perlindungan hukum untuk menangani kekerasan seksual, ataupun norma masyarakat yang membatasi penggunaan hak seksual perempuan. Shakuntala dan teman-temannya tidak mempunyai batasan dalam memililiki peran mereka.

Tiga diantaranya empat karakter perempuan belum menikah pada usia tiga puluhan dan peran mereka tidak sebatas istri atau ibu. Mereka bisa menikmati pendidikan dan bebas menentukan sendiri profesi mereka, melakukan sesuatu yang tidak hanya berguna bagi masyarakat, tetapi juga bagi perkembangan kepribadian mereka masing-masing (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Perempuan dalam novel Saman sudah tidak terlalu bergantung kepada kaum pria. Dalam novel ini Saman sebagai lak-laki malah ditolong dan dilindungi oleh Yasmin dan Cok. Saman menjadi buronan karena kegiatan-kegiatan LSMnya.

Yasmin dan Cok membantu Saman melarikan diri dari kejaran polisi dan mengirimnya ke New York. Proses pelarian ini cukup berbahaya, bahkan Saman mengakui “Dua cewek ini lumayan tangguh dan barangkali menganggap ketegangan sebagai petualangan.” Meskipun sudah banyak kemajuan yang dicapai oleh Shakuntala dan teman-temannya, masih ada juga ketidakadilan bagi perempuan Indonesia di tahun 1990-an, yang tercermin dalam novel Saman. Contoh adalah Upi, gadis Lubukrantau yang menderita kelainan jiwa dan kelainan seks. Pemerintah dan masyarakat sekitar tidak merawat dan melindungi gadis ini. Tidak ada fasilitas kesehatan dari pemerintah untuk merawat orang-orang seperti Upi, dan juga tidak ada perlindungan hukum dan keadilan untuk Upi. Para lelaki bisa seenaknya saja memanfaatkannya atau mempermainkannya, dan tidak ada hukum yang melarang perbuatan mereka. Keadaan ini dikritik oleh Ayu Utami dengan cara menampilkan tokoh Saman yang ditampilkan sebagai seorang pastor. Saman bukan hanya tidak memanfaatkan Upi, ia bahkan membuat rumah perlindungan yang lebih bagus untuk Upi, dan selalu memikirkan keselamatannya (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Cerita dalam novel Saman berputar diantara empat perempuan yaitu Shakuntala, Yasmin, Laila, Cok. Novel ini mengisahkan masa kecil mereka sampai saat mereka berumur tiga puluhan. Dalam novel ini juga dijabarkan mengenai pencarian identitas diri mereka sebagai perempuan, konflik batin mereka tentang masalah seksual dan juga norma masyarakat yang tidak mereka setujui. Selain kisah keempat perempuan tersebut, juga diceritakan mengenai perjuangan Saman dalam membantu masyarakat Lubukrantau, masalah politik dan sosial di masa Orde Baru, iman kepada Tuhan yang diuji, dan bahkan juga ada bagian surealistis yang  menceritakan masa lalu Saman di Perabumulih (http://www.qlen.hlc. unimelb.edu.au).

 

 

 

 

Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Saman

 

Penelitian Strukturalisme Genetik merupakan penelitian yang memandang karya sastra itu dari dua sudut yaitu intrinsik dan ektrinsik. Studi diawali dari bagian unsur intrinsik sebagai data dasarnya. Dari pengkajian unsur intrinsik ini akan dapat menemukan tokoh problematik dalam novel tersebut. Tokoh problematik yang terdapat dalam novel akan memunculkan adanya pandangan dunia pengarang. Melalui tokoh problematik inilah pandangan dunia pengarang akan terlihat dari pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang kepada tokoh problematik dalam usahanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Tokoh problematik dalam novel Saman adalah tokoh yang bernama Saman. Saman ditentukan sebagai tokoh problematik karena Saman merupakan tokoh yang mempunyai masalah paling banyak dalam cerita dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya. Melalui masalah-masalah inilah pengarang memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya.

Masalah pertama yang dihadapi oleh Saman yaitu muncul ketika ia telah diangkat menjadi seorang pastor dan ia berkeinginan untuk ditugaskan di desa tempat masa kecilnya mengalami suatu perjalanan aneh yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Akan tetapi Saman takut kalau keinginannya tidak sesuai dengan keputusan yang diberikan oleh Uskup.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Sesungguhnya persoalan itulah yang ingin dibicarakan Wisanggeni. Dengan hati-hati ia ungkapkan keinginannya. Ia berharap ditugaskan di Perabumulih. Kenapa, tanya yang senior. Saya lulusan institut pertanian, jawabnya. Saya kira banyak yang bisa saya kerjakan di daerah perkebunan. Tetapi, kalau begitu Anda cocok ditugaskan di Siberut, pulau kecil di mana Gereja Katolik punya akar cukup besar di antara penduduk pedalaman yang nomaden, yang mayoritas hidup dari mengumpul panen alam tanpa bertani. Wis mencoba bertahan.

(Saman, hlm: 42)

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Saman di atas pengarang memunculkan tokoh yang bernama Romo Daru sebagai seorang pastor senior yang banyak menghabiskan waktunya di persemedian. Romo Daru berusaha melobi Bapak Uskup supaya Saman dapat ditugaskan di Perabumulih sesuai dengan keinginan Saman. Berkat usaha Romo Daru, akhirnya Saman ditugaskan sebagai Pastor Paroki Parid yang melayani kota kecil di Perabumilih dan Karang Endah wilayah keuskupan Palembang.

Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Barangkali Tuhan mengutusnya. Barangkali Tuhan Cuma mengabulkan harapannya. Uskup menugaskan dia sebagai Pastor Paroki Parid, yang melayani kota kecil. Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Umat di daerah itu sekitar lima ratus saja. Barangkali Romo Daru melobi untuk dia (Wis belum berhasil menemui dia untuk berterimakasih atau konfirmasi).

(Saman, hlm: 57)

Pemunculan tokoh Romo Daru yang berkedudukan sebagai pastor senior di atas, merupakan gambaran kehidupan pengarang. Dalam menulis cerita, pengarang cenderung menulis tentang pastor dan suster. Cerita-cerita yang pengarang tulis agak religius. Pengarang menggunakan kata-kata dalam bidang agama seperti Romo, Uskup, Pastor. Kata-kata tersebut merupakan istilah yang terdapat dalam agama Katolik. Pengarang bisa secara jelas menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan agama Katolik. Hal ini merupakan gambaran kehidupan pengarang, yaitu pengarang menganut kepercayaan agama Katolik. Sebagai penganut agama Katolik, pengarang masih menyisakan waktunya untuk membaca Alkitab yang merupakan satu-satunya buku yang ia baca dari kecil sampai dewasa. Alasannya, Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya dan ditulis oleh orang dengan gaya masing-masing ada yang berbentuk buku, puisi, bahkan surat menyurat. Jadi, wajarlah kalau dalam novel Saman terdapat petikan-petikan ayat Alkitab.

Setelah melakukan perjalanan jauh menuju tempat tugasnya Saman beristirahat. Di kamar tidur kepastoran Saman mengalami kegelisahan. Ia telah melihat kesengsaraan di balik kota-kota maju, tetapi belum pernah ia menyaksikan keterbelakangan yang dialami oleh Upi. Upi adalah anak dari salah satu transmigrasi Sei Kumbang yang bertempat di Lubukrantau yang mengalami kelainan jiwa dan kelainan seks. Pemerintah dan masyarakat sekitar tidak merawat dan melindungi gadis ini. Tidak ada fasilitas kesehatan dan pemerintah untuk merawat orang-orang seperti Upi, sehingga Upi harus dikurung dan dikerangkeng di sebuah tempat yang dianggap tidak layak untuk Upi. Para lelaki bisa seenaknya saja memanfaatkannya atau mempermainkannya dan tidak ada hukum yang melarang perbuatan mereka.

Permasalahan di atas merupakan permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan. Adanya ketidakadilan yang dihadapi oleh kaum perempuan pada tahun 1990-an yang tercermin dalam novel Saman yang dimunculkan melalui tokoh yang bernama Upi. Keadaan ini dikritik oleh pengarang dengan cara menampilkan tokoh Saman sebagai seorang yang peduli pada penderitaan. Saman berusaha untuk menyelematkan Upi dengan membuatkan rumah perlindungan yang lebih bagus bagi Upi. Semua ini ia lakukan dengan cara meminta izin kepada Mak Argani yang merupakan orang tua Upi untuk membuatkan tempat yang lebih baik untuk tempat tinggal Upi (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Saman diperbolehkan untuk membangun tempat tinggal Upi yang lebih sehat dan menyenangkan. Dengan membangun tempat tinggal yang lebih baik, Saman berharap dapat lebih meringankan penderitaan Upi. Saman begitu memikirkan keselamatan Upi. Sampai-sampai ia memilih untuk tinggal lebih lama bersama penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Dengan bertempat tinggal bersama penduduk transmigrasi Sei Kumbang Saman bisa selalu melihat Upi dan bisa selalu menjaganya.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Ketika waktunya gips pada kaki Upi dibuka, Wis meminta izin dari pastor kepala, Pater Wastenberg, untuk pergi lima hari, berangkat Senin siang kembali Sabtu pagi. Kali ini ia membawa gergaji rantai. Juga segulung kawat pagar, satu sak semen, dan beberapa lembar seng yang didapatnya dari toko bangunan Kong Tek. Orang Cina itu memberinya dengan cuma-cuma. Ia juga berbekal mi instan, sekantong beras ukuran lima liter, dan abon. Sekali lagi Rogam mengantarnya dengan jip Ichwan. Mereka membawa seorang dokter muda dari puskesmas. Tengah hari Rogam dan dokter itu kembali ke utara, namun Wis tinggal di Lubukrantau, dusun tempat tingal Upi itu adalah salah satu desa di daerah transmigrasi Sei Kumbang. Ia telah memutuskan: meringankan penderitaan si gadis dengan membangun sangkar yang lebih sehat dan menyenangkan, seperti membikin kurungan besar bagi perkutut dan cicakrawa ayahnya sebab melepaskan mereka hampir sama dengan membunuh mereka.

(Saman, hlm: 73-74)

Saman juga tidak tahan melihat kemunduran petani yang terjadi pada penduduk transmigrasi Sei Kumbang yang harus pergi meninggalkan desa karena harga karet mereka terus menerus diserang cendawan putih ataupun merah. Orang-orang tidak bisa lagi menggantungkan diri dari hasil panen karet. Saman berusaha untuk memperbaiki keadaan petani di Lubukrantau.

Solusi yang diberikan oleh pengarang untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh Saman adalah dengan cara memunculkan tokoh Pater Wastenberg, Pak Sarbini, dan Sudoyo. Pater Wastenberg adalah pastor kepala di gereja tempat Saman diangkat menjadi pastor. Pastor Wastenberg memberikan kesempatan kepada Saman untuk melakukan rencana memperbaiki keadaan petani penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Walaupun awalnya Pater Wastenberg tidak setuju atas keputusan Saman untuk melakukan hal ini, karena ia dianggap telah menyepelekan pelajaran gereja. Ia kerap dipersalahkan karena acap meninggalkan kewajiban itu. Ia lebih sering pergi ke penduduk transmigrasi Sei Kumbang daripada melayani dan memelihara iman umat di sana. Akan tetapi setelah mendengar alasan-alasan yang diucapkan Saman, Pater Wastenberg akhirnya menyetujui akan keputusan yang diambil oleh Saman. Bahkan Pater Wastenberg berani mengusulkan agar Uskup memberi Saman pekerjaan kategorial di perkebunan, jika Saman berhasil dalam usahanya.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Si pater Belanda mengamati Wis, akhirnya dengan iba menyerahkan kepada pemuda itu. Apa yang bisa saya lakukan untukmu? tanpa restu Bapa Uskup, tak ada bujet untuk rencana-rencanamu. Uang sakumu amat kecil, saya kira. Namun, agak untung juga bahwa kamu memilih menjadi imam praja, sehingga kamu bisa mengelola uang lepas dari ikatan ordo. Jika kamu bisa mengusahakan dana sendiri satu bulan. Satu minggu sisanya kamu harus di ada paroki. Jika saya melihat hasilnya, saya berani mengusulkan agar Uskup memberimu pekerjaan kategorial di perkebunan.

(Saman, hlm: 82)

Pengarang selain memunculkan tokoh Peter Wastenberg sebagai tokoh yang memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi Saman, pengarang juga memunculkan tokoh yang bernama Pak Sarbini. Pak Sarbini adalah teman lampau ayah Saman yang kini menjadi tengkulak karet Sukasari di kawasan transmigrasi Jawa yang letaknya bersebelahan dengan transmigrasi Sei Kumbang. Saman membutuhkan jaringan yang berpengalaman dengan jalur jual beli dan pengolahan getah lateks. Semua itu Saman dapatkan dari Pak Sarbini.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

… Esoknya ia juga menghubungi Pak Sarbini. Teman lampau ayahnya itu kini juga menjadi tengkulak karet di Sukasari, kawasan transmigrasi Jawa yang letaknya bersebelahan dengan Sei Kumbang yang dihuni transmigran lokal. Lelaki itu keturunan buruh Jawa yang dibawa Belanda ke perkebunan karet Deli tahun 1930-an. Dia ikut pendidikan bintara, namun kemudian bertugas dalam Bimas desa-desa transmigrasi. Pak Sarbini begitu berpengalaman dengan jalur jual-beli dan pengolahan getah lateks. Wis membutuhkan jaringan itu.

(Saman, hlm: 83)

Selain itu pengarang juga memunculkan tokoh bernama Sudoyo yang merupakan orang tua Saman. Sudoyo mengabulkan permohonan yang diajukan Saman yaitu dengan memberikan modal kepada Saman sebesar lima atau enam juta rupiah. Dengan pemberian modal tersebut Saman bisa menjalankan rencananya untuk memperbaiki pertanian penduduk transmigrasi Sei Kumbang.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Wis berterima kasih sehingga ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Setelah mandi, yang pertama kali ia kerjakan adalah menulis surat kepada ayahnya. Kali ini, tak hanya berisi cerita dan kerinduan seperti biasanya, namun juga permohonan agar si ayah memberinya modal, sekitar lima atau enam juta rupiah, bukan jumlah yang besar dari tabungan bapaknya.

(Saman, hlm: 83)

Ayahnya memberi balasan setuju. Lalu Wis kembali ke Lubukrantau. Upi menjerit-njerit senang ketika mendengar suara pemuda itu. Tapi ia menemui gadis itu sebentar saja, sebab ia hendak membicarakan sesuatu yang serius dengan ibu dan abangnya.

(Saman, hlm: 83)

 

 

Setelah semuanya terkumpul Saman menawarkan kerja sama dengan keluarga Argani yang luasnya dua hektar. Mereka menyetujui rencana Saman.

Keesokan harinya Saman bersama keluarga Argani mulai memperbaiki lahan, memusnahkan tanaman yang sudah tidak bisa diselamatkan, dan menanami kembali dengan pohon karet yang baru. Berkat bantuan mereka perkebunan karet penduduk transmigrasi Sei Kumbang ini menjadi lebih baik.

Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Waktu itu petani Lubukrantau sudah mulai menakik getah karet muda yang mereka enam tahun lalu, sebagai ganti pohon-pohon yang tumbang dimakan kapang. Bibit-bibit PR dan BPM itu sebagian dibeli Wis dan dibiakannya sendiri. Sebelumnya, ketika sebagian pohon-pohon belum siap disadap, orang-orang menderes tanaman tua serta memanen kedele dan tumbuhan tumpang sari. Lalu berkat bantuan Pak Sarbini, bundel-bundel smoked sheet yang diproduksi rumah asap sederhana di dusun itu cukup mendapatkan pasarnya.

(Saman, hlm: 87)

Ketika kebun karet milik penduduk Sei Kumbang sudah mulai membaik. Saman memenuhi permintaan Pater Wastenberg untuk membantunya di Perabumulih setiap satu pekan dalam sebulan. Saat Saman kembali ke Lubukrantau terjadi peristiwa yang menimpa Upi. Dua lelaki menjebol pintu rumah Upi dan memperkosa gadis yang kini telah berumur dua puluh satu tahun dan mereka juga menghancurkan menara kincir yang dulu dibangun sebagai pembangkit listrik mini buat rumah asap. Anson yang merupakan kakak Upi merasa yakin bahwa pemerkosaan dan perobohan menara kincir itu adalah sebagai salah satu bentuk teror dari orang-orang yang hendak merebut lahan penduduk transmigrasi Sei Kumbang. Orang-orang itu sengaja melakukannya untuk mengancam penduduk transmigrasi Sei Kumbang agar mau menyerahkan kebun mereka untuk dijadikan kebun kelapa sawit, karena ada sebagian penduduk Sei Kumbang yang tidak menyetujui usul tersebut.

Saman berusaha membantu untuk membebaskan penduduk transmigrasi Sei Kumbang dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum pengusaha melalui PT ALM. Akan tetapi Saman malah dituduh sebagai orang yang telah mengkristenkan orang-orang Lubukrantau dan mengajari keluarga Argani berburu dan makan babi hutan.

Melihat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum pengusaha melalui PT ALM, akhirnya Saman melakukan perlawanan dengan cara Saman memutuskan untuk pergi ke Palembang, Lampung, dan Jakarta, setelah memotret desa dan mengumpulkan data-data tentang dusun mereka yang telah maju. Saman juga mengunjungi kantor-kantor surat kabar dan LSM. Setelah koran-koran mulai menulis serta mengirim wartawan ke lahan transmigrasi Sei Kumbang, orang-orang yang akan menggusur dusun tersebut tidak lagi bolak-balik dengan membawa blanko kosong.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Karena merasa persoalan tak akan segera selesai, Wis pergi ke Palembang, Lampung, dan Jakarta, setelah memotret desa dan mengumpulkan data-data tentang dusun mereka yang tengah maju. Ia mengunjungi kantor-kantor surat kabar dan LSM. Pada setiap orang yang menerimanya, ia bercerita panjang lebar dengan bersemangat dan menyerahkan materi berita. Ia membujuk: kalau bisa datanglah sendiri dan tengok desa kami. Setelah koran-koran mulai menulis serta mengirim wartawannya ke lahan terpencil itu, empat lelaki itu tidak lagi bolak-balik dengan lembaran blanko kosong. Usaha menggusur dusun memang jadi tertunda, berbulan-bulan, bahkan hampir setahun.

(Saman, hlm: 92-93)

Usaha yang dilakukan oleh Saman untuk mengatasi permasalahan di atas merupakan gambaran dari kegiatan pengarang yang memiliki profesi sebagai wartawan. Kegiatan yang dilakukan oleh Saman seperti memotret desa, dan mengumpulkan data-data di atas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang wartawan ketika ia akan menulis berita. Pengarang bisa menceritakan secara jelas tentang kegiatan seorang wartawan. Sebelum menjadi penulis novel, pengarang pernah menjadi wartawati di majalah Matra dan Forum. Ia juga menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen. Pengarang lebih banyak menulis esei serta reportase dari pada menulis fiksi. Pengarang juga pernah menjadi wartawan di majalah khusus trend pria. Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, sketsa, di SK Berita Buana, yang isinya berupa renungan tentang berbagai soal politik. Menurutnya menulis novel merupakan cara untuk mengeksplorasi bahasa Indonesia, bahasa yang masih muda, yang kurang mungkin dilakukannya sebagai wartawan. Seorang wartawan dituntut untuk memperhitungkan publik baik latar belakang, pengetahuan, maupun tingkat emosionalnya. Ditambah lagi wartawan bisa keluar dari fakta yang menurut pengarang dilematis. Jadi sulit untuk bisa mengembangkan bahasa yang eksploratif (http://www.rnw.ni.com).

Usaha yang dilakukan oleh Saman ternyata hanya bisa menunda usaha penggusuran dusun selama beberapa bulan saja bahkan hampir setahun. Akan tetapi orang-orang tersebut menggunakan cara lain supaya penduduk transmigrasi Sei Kumbang mau melepaskan tanahnya. Tindakan yang mereka lakukan adalah dengan cara menggunakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer. Aparat militer melakukan tindakan yang sewenang-wenang. Mereka meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh.

Melihat kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer, Saman dan teman-temannya berusaha untuk melawan dan memprotes tindakan tersebut. Akan tetapi protes dan perlawanan yang dilakukan oleh Saman membuat dirinya ditangkap dan dimasukkan ke ruang penyekapan. Sedangkan Anson dan teman-temannya berhasil lolos dari kejaran aparat militer. Selama di ruang penyekapan Saman selalu disiksa

untuk dimintai keterangan tentang keberadaan Anson dan teman-temannya. Saman sudah putus asa akan keadaan yang menimpanya.

Permasalahan mengenai penindasan yang dilakukan oleh aparat militer pada penduduk Sei Kumbang di atas merupakan gambaran atau cerminan dari peristiwa yang terjadi pada masa rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto pada waktu novel tersebut ditulis (http://www.forum.webqaul.com). Pada masa Orde Baru ini muncul konflik persengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi di Medan. Peristiwa itu membawakan persoalan peka bagi masyarakat yaitu akan diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit. Masyarakat tidak setuju akan perubahan itu, hal ini membuat oknum penguasa Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-wenang yaitu memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi pikiran petani penduduk transmigrasi Sei Kumbang dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan membunuh.

Solusi yang diberikan oleh pengarang untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi oleh Saman yaitu dengan cara memunculkan tokoh yang bernama Anson. Anson berhasil melarikan Saman dari ruang penyekapan dan mengantarkannya ke rumah suster-suster Boromeus di Lahat untuk menjalani perawatan.

Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Tapi didengarnya suara-suara itu. Betul, suara-suara yang dirindukannya, yang meninggalkan dia sejak dipenjara. Makin lama makin ramai di sekelilingnya, seperti nyamuk, seperti membangunkan atau membingungkannya. Lalu ia merasa ada energi menyusup ke dalam tubuhnya, ada nyawa-nyawa masuk ke raganya. Dan ia merasa begitu ringan, seperti ia bayangkan pada orangyang sedang trans, seperti kelebihan tenaga untuk tubuhnya yang telah menjadi kurus. Rasanya ia bisa terbang. Ia bangkit dan menjebol pintu yang telah kropos oleh api, lalu di lorong yang mulai terbakar. Ia berlari, terus berlari, melayang, entah apa yang mengarahkan langkahnya. Dan ia sampai pada pintu terakhir.

(Saman, hlm: 108-109)

Wis tidak mau ke Perabumulih, sebab ia khawatir orang-orang yang menyelidiki dirinya mengintai pastoran. Berbahaya bagi Anson, kawannya, dan dia sendiri, serta gereja. Ia minta diantar ke rumah suster-suster Boromeus di Lahat. Di sana, ia berpisah dari Anson dan teman-temannya. Dipeluknya pemuda yang membungkuk ke tempat ia tidur.

(Saman, hlm: 110)

Pada saat Saman dalam persembunyian untuk menghindari kejaran polisi, karena Saman dituduh sebagai dalang dalam peristiwa yang terjadi di Lubukrantau, tiba-tiba Yasmin datang menemui Saman. Yasmin membujuk Saman untuk melarikan diri ke luar negeri. Saman merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk menimbang-nimbang tawaran. Akhirnya ia menyetujui usul itu, karena menurutnya semakin lama menunda keputusan, semakin sulit untuk keluar dari negeri ini dan menghindari kejaran polisi.

Untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi Saman dalam usahanya untuk melakukan pelarian ke luar negeri, pengarang memberikan solusi yaitu dengan memunculkan tokoh yang bernama Yasmin dan Cok. Yasmin dan Cok membantu Saman melarikan diri dari kejaran polisi dengan mengirimnya ke New York. Mereka melarikan Saman keluar dari Medan dengan cara melakukan penyamaran pada diri Saman. Yasmin telah menyiapkan segala hal dengan rapi. Walaupun proses pelarian ini cukup berbahaya, tetapi Yasmin dan Cok dapat melampaui rintangan itu dan berhasil melarikan Saman ke New York.

Perempuan dalam novel Saman seperti Yasmin dan Cok di atas adalah cerminan perempuan Indonesia pada tahun 1990-an. Jaman sudah semakin berkembang, perempuan Indonesia pun turut mengalami kemajuan yang cukup pesat. Mereka mempunyai kepercayaan diri dan pengetahuan luas, sehingga peran mereka tidak hanya sebagai istri atau ibu. Mereka merupakan perempuan yang sudah tidak terlalu bergantung kepada kaum pria. Saman sebagai laki-laki malah ditolong dan dilindungi oleh Yasmin dan Cok, ketika Saman melakukan persembunyian ke luar negeri. Shakuntala dan teman-temannya tidak mempunyai batasan dalam memilih peranan mereka. Tiga diantara empat karakter perempuan belum menikah pada usia tiga puluhan dan peren mereka tidak sebatas istri atau ibu. Mereka bisa menikmati pendidikan dan bebas menentukan sendiri profesi mereka, melakukan sesuatu yang tidak hanya berguna bagi masyarakat, tetapi juga bagi perkembangan kepribadian mereka masing-masing (http://www.qlen.hlc.unimelb.edu.au).

Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Pagi-pagi Yasmin telah kembali ke persembunyianku bersama seorang nyonya melayu yang sama pesoleknya. Ternyata anak itu bekas murid SMP Tarakanita juga, Cok, teman satu kelas Yasmin dan Laila waktu remaja. Bocah-bocah itu kini sudah dewasa! Baru kusadari umurku sudah mau tiga puluh tujuh. Aku tak begitu ingat satu per satu waktu mereka masih kecil. Cuma Laila yang agak terhafal karena ia sering mengirim surat. Kini Yasmin telah mengurus segalanya agar aku pergi dari Indonesia. Dan Cok dipilihnya menjadi orang yang akan membawaku keluar dari Medan. Semula agak ragu karena aku tak begitu kenal anak ini. Tapi Yasmin nampaknya percaya betul pada teman karibnya. Dan ternyata mereka mendandaniku dengan serius, menempel kumis palsu, mencukur rambut, dan mencabuti alisku agar bentuknya berubah. Lalu mereka mencocok-cocokkan wajahku dengan foto pada sebuah hotelnya di Pekanbaru. Yasmin memang telah menyiapkan segala hal dengan rapih seperti ia biasa bekerja.

(Saman, hlm: 175)

Selain itu, pemunculan tokoh dalam novel Saman seperti Laila, Cok, Shakuntala dan Saman yang belum menikah pada usia tiga puluhan ini, merupakan gambaran dari pengarang yang sampai sekarang belum menikah, bahkan ia memutuskan untuk tidak menikah. Pengarang ingin menghimbau atau mengajak atau sebetulnya bertanya kepada orang lain, kenapa kita harus menikah. Ia menunjukkan tanpa menikah pun bisa bahagia. Di satu pihak ia juga ingin menyadarkan masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan seks itu bukan hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam pernikahan sendiri bukan berarti lebih baik dari hubugan seks di luar pernikahan. Usaha yang ingin disampaikan pengarang dapat dilihat dari pemunculan tokoh dalam novel Saman seperti Shakuntala, dan Cok yang dapat melakukan hubungan seksual dengan sejumlah laki-laki dan diantara mereka belum ada ikatan pernikahan. Selain itu, Yasmin sebagai tokoh yang sudah mempunyai suami dapat melakukan hubungan seksual dengan tokoh yang bernama Saman yang bukan suaminya sendiri.

Hal ini tampak pada kutipan di bawah ini.

Namun tak kupahami, akhirnya justru akulah yang menjadi seperti anak kecil: terbenam di dadanya yang kemudian terbuka, seperti bayi yang haus. Tubuh kami berhimpit gemetar, selesai sebelum mulai, seperti tak sempat mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi ia tak peduli, ia menggandengku ke kamar. Aku tak tahu bagaimana aku akhirnya melakukannya. Ketika usai aku menjadi begitu malu. Namun ada perasaan lega yang luar biasa sehingga aku terlelap.

(Saman, hlm: 177)

Usaha yang dilakukan Yasmin dan Cok dalam usahanya melarikan Saman ke luar negeri untuk menghindari kejaran polisi di atas, merupakan gambaran dari kegiatan yang pernah dilakukan oleh pengarang. Pengarang pernah menjadi aktivis yang memperjuangkan kebebasan pers. Awalnya pengarang tidak berniat untuk menjadi seorang aktivis. Akan tetapi pengarang merasa tersentuh setelah ia melihat keadaan teman-temannya yang terlibat secara langsung di Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI). Mereka cukup lama hidup dalam persembunyian dari kejaran polisi. Pada saat itu pengarang berkedudukan hanya sebagai kurir atau penghubung yang bertugas menghubungi mereka untuk berbagai keperluan. Dengan penampilannya ia memang bisa mengelabuhi pihak aparat, sehingga mereka sama sekali tidak curiga akan kehadirannya. Karena untuk ukuran seorang aktivis, sosoknya cukup bersih dan rapi. Hasilnya, sepak terjangnya sebagai seorang aktivis tidak pernah tercium oleh pihak aparat.

Berdasarkan analisis mengenai permasalahan yang dihadapi oleh tokoh problematik dan solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa padangan dunia pengarang dalam novel Saman karya Ayu Utami yaitu pengarang mempunyai rasa simpati pada nasib yang dialami oleh penduduk transmigrasi Sei Kumbang dan pengarang berusaha untuk menolak pandangan bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan. Lebih dari itu pengarang ingin menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan.

Hal ini terlihat dari adanya pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik. Pemberian solusi-solusi pada tokoh problematik ini sesuai dengan latar belakang lingkungan sosial pengarang.

 

 

 

 

SINOPSIS NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI

Wis itulah panggilan akrab dari seorang anak lelaki yang mempunyai nama panjang Wisanggeni. Wis lahir di Muntilan Yogyakarta. Wis termasuk anak yang beruntung karena dia adalah satu-satunya anak yang lahir dari rahim ibunya dan hidup. Dua adiknya tidak pernah lahir. Mereka mengalami suatu peristiwa aneh yang hanya diketahui oleh Wis dan pengalaman ini terjadi pada masa kecilnya. Ayahnya bernama Sudoyo, bekerja sebagai pegawai Bank Rakyat Indonesia dan sebagai mantri kesehatan di Yogyakarta. Ibunya masih keturunan raden ayu.

Pada waktu Wis berumur empat tahun, ayahnya dipindahkan ke Perabumulih yaitu sebuah kota minyak di tengah Sumatra Selatan yang sunyi pada masa itu, hanya ada satu bioskop dan bank yang usianya belum panjang. Di Perabumulih ayah bekerja sebagai kepala cabang Bank Rakyat Indonesia. Beberapa tahun kemudian Wis dan ayahnya pindah ke Jakarta. Wis melanjutkan sekolah dengan mengambil pendidikan teologi dan belajar di Institut Pertanian Bogor. Setelah Wis dan ayahnya pindah di Jakarta. Setelah Wis menamatkan pendidikannya, maka diadakan upacara pengangkatan Wis sebagai pastor dan ia mendapatkan julukan Pastor Wisanggeni atau Romo Wis. Setelah misa, ada acara pesta di balai pastoran untuk merayakan adanya pastor baru. Di acara itu Wis bertemu dengan Romo Daru dan Wis meminta kepada Romo Daru agar dirinya ditugaskan di Perabumulih.

Permintaan Wis dikabulkan yaitu Uskup memberi tugas kepada Wis sebagai Pastor Paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah di Palembang. Wis segera menuju ke kota itu. Setelah sampai di Perabumulih, ia menemukan perubahan-perubahan yang terjadi di kota itu, diantaranya rumah Wis telah dihuni oleh orang lain. Wis mendatangi rumahnya yang dulu dan berkenalan dengan penghuni rumahnya yang sekarang. Ketika di sana Wis mengalami kejadian-kejadian aneh lagi seperti yang pernah ia alami pada waktu kecil.

Di Perabumulih Wis bertemu dengan seorang gadis yang cacat dan mempunyai keterbelakangan mental. Gadis itu bernama Upi. Upi adalah anak seorang transmigrasi Sei Kumbang yang tinggal di Lubukrantau. Karena perlakuannya dianggap membahayakan orang lain, maka keluarganya memutuskan untuk mengurung dan mengrangkeng Upi di sebuah bilik yang terbuat dari kayu dan bambu yang kondisinya sudah tidak sehat. Wis tidak berdaya melihat gadis di dalam kerangkeng itu. Akhirnya Wis memutuskan untuk membangun tempat yang lebih sehat dan menyenangkan Upi.

Wis merasa semakin ia mengetahui penderitaan rakyat Lubukrantau semakin ia merasa bahwa dirinya adalah bagian dari mereka, yang membuatnya ingin lebih lama tinggal dan ingin memperbaiki penderitaan yang dialami oleh petani di sana. Berkat izin dari Bapak Uskup dan modal dari ayahnya, maka ia mengadakan rapat dengan keluarga Mak Argani dan membicarakan tentang rencananya untuk membangun pengolahan sederhana atau rumah asap di dusun itu sambil memperbaiki kebun. Usul itu disetujui oleh keluarga Argani. Akhirnya mereka membersihkan kebun.

Wis kembali ke Perabumulih selama dua minggu. Ketika Wis kembali ke Lubukrantau, Wis dikejutkan oleh kejadian yang telah menimpa Upi gadis cacat dan gila itu telah diperkosa oleh orang-orang yang hendak merebut lahan mereka dengan cara menjebol rumah baru Upi.

Beberapa tahun yang lalu empat orang lelaki datang ke wilayah transmigrasi Sei Kumbang yang mengaku bahwa mereka menjalankan tugas dari Gubernur tentang lokasi transmigrasi Sei Kumbang yang semula perkebunan karet akan diganti dengan perkebunan kelapa sawit. Para penduduk tidak sepakat untuk menganti kebunya dengan kelapa sawit. Melihat keadaan ini Wis dan penduduk mengadakan rapat yang bertempat di rumah asap. Pada rapat ini menghasilkan kesepakatan supaya penduduk jangan sesekali mau menandatangani pada lembaran kosong yang diberikan oleh pihak perusahaan PT Anugrah Lahan Makmur (ALM).

Tiga minggu kemudian, empat orang itu datang lagi dan menyuruh para penduduk untuk menyetujui usulnya. Namun Wis dan penduduk tidak menyetujui usul itu. Empat orang itu akhirnya pergi sambil menahan marah. Perbuatan Wis ini membuat pihak perusahaan menjadi marah dan memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak benar kepada Wis, seperti dirinya yang dituduh telah mengkristenkan orang Lubukrantau dan mengajari Argani berburu dan maka babi hutan.

Melihat keadaan ini, akhirnya Wis pergi ke Palembang, Lampung dan Jakarta dalam rangka mengumpulkan data, untuk mempertahankan perkebunan di trasmigrasi. Usaha Wis tidak sia-sia karena penggusuran dusun jadi tertunda sampai setahun.

 

Orang-orang tersebut mengunakan cara lain supaya dapat menggusur dusun itu yaitu dengan cara merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai

hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi dan membakar rumah pada penduduk.

Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu disiksa. Pada saat Wis mulai putus asa dengan keadaan yang menimpanya, Anson dan pemuda Lubukrantau menyelamatkan Wis dan membawa kabur Wis dari penjara. Wis keluar dari penjara dalam keadaan yang tidak berdaya. Wis tidak mau dipulangkan ke Perabumulih, ia meminta diantar ke rumah suster-suster Boronous yang berada di Lahat. Di sana Wis dirawat oleh suster Marietta selama kurang lebih tiga bulan. Dalam masa penyembuhan Wis membaca tuduhan-tuduhan terhadap dirinya melalui surat kabar. Setelah sembuh Wis pergi ke sebuah tempat yang hanya diketahui oleh lima orang suster dan satu dokter. Dalam persembunyiannya, tak lama setelah peristiwa itu, Wis mengganti kartu identitasnya dengan mengganti namanya menjadi Saman.

Tak lama kemudian Saman menulis surat untuk ayahnya. Ia menyatakan bahwa ia menyesal karena tidak bisa memberi ayah keturunan karena dirinya menjadi seorang pastor. Ia bercerita tentang rumah asap yang dibangunnya dengan modal awal dari ayahnya, memohon restu kepada ayahnya untuk tetap tinggal di Perabumulih, dan ia memohon maaf karena dirinya memutuskan untuk keluar dari kepastoran. Karena Saman dan beberapa temannya ingin mendirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengurusi perkebunan guna membantu orang Lubukrantau yang tidak lagi mempunyai tanah dan tidak mempunyai pekerjaan. Akhirnya berkat bantuan Cok dan Yasmin, Saman dapat melarikan diri ke New York. Kini Saman telah mengganti penampilannya dan muncul sebagai aktivis perburuhan dan mengelola LSM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: