IMPLEMENTASI TEORI PERKEMBANGAN DALAM BELAJAR

12 Apr


A. PENDAHULUAN

Banyak pendapat tentang hakikat perkembangan manusia, di kalangan psikolog terdapat berbagai aliran yang melihat masalah perkembangan ini dengan cara yang berbeda-beda. Adanya perbedaan tersebut kemudian memunculkan berbagai teori tentang perkembangan manusia.  Secara umum, teori perkembangan itu sendiri dapat kita definisikan sebagai sejumlah ide yang koheren, mengandung hipotesis-hipotesis dan asumsi-asumsi yang dapat diuji kebenarannya, dan berfungsi untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi perubahan-perubahan perilaku dan proses mental manusia sepanjang rentang kehidupannya.
Dalam makalah ini kita tidak akan membahas semua teori perkembangan yang ada. Namun kita hanya akan membahas tiga teori perkembangan yaitu teori perkembangan kognitif, teori perkembangan sosio emosional, dan teori perkembangan moral.

B. TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 18961980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

  • Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)

  • Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)

  • Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

  • Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Periode sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

  1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.

  2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.

  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.

  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).

  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.

  6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

C. TEORI PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL

Emosi adalah perasaaan yang ada dalam diri kita dapat berupa parasaan senang atau tidak senang, baik atau buruk. Dalam world book dictionary (1994: 690) emosi didefinisikan sebagai “berbagai perasaan yang kuat”. Perasaan benci, takut, marah, cinta, senang dan kesedihan. Goleman (1995: 411) menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologgis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Berdasarkan definisi-definisi di atas kita dapat memahami bahwa emosi adalah suatu keadaan emosi yang kompleks, dapat berupa perasaan ataupun getaran jiwa yang ditandai oleh perubahan biologis yang muncul menyertai terjadinya suatu perilaku.

Menurut plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk social (zoon politico). Syamsuddin (1995 : 105) mengungkapkan bahwa “sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk social, sedangkan menurut Loree (1970 : 86) sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan social terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya”.

Muhibin (1999 :35) mengatakan bahwa perkembangan social merupakan prose pembetukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock (1978;250) mengutarakan bahwa perkembangan social merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan social. “sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan social”.

Karakteristik Perkembangan Sosial / Emosional Usia 3-5 Tahun

1. Aspek Kesadaran Diri

Kompetensi

Tanda

2 – 3 Tahun

3 – 4 Tahun

4 – 5 Tahun

1. Menunjukkan kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru

Berinteraksi dengan para guru ketika anggota keluarga

berada di seklitarnya

Mampu untuk pindah dari anggota keluarga; kadang-kadang memeriksa kembali (referensi sosial)

Menganggap kedatangan dan keberangkatan sebagai bagian dari rutinitas

Contoh, mengucapkan selamat tinggal

ke anggota tanpa penekanan khusus; menerima dukungan guru

Menerima perubahan pada jadwal dan rutinitas sehari-hari

Contoh, ingin berpartisipasi dalam perjalanan; menerima pengunjung ke dalam kelas

Berfungsi untuk meningkatkan kemandirian di sekolah

Contoh, siap untuk pergi ke gedung lain untuk kegiatan yang sudah terjadwal; dengan sukarela menyampaikan pesan dari guru kelas ke kantor.

2. Menunjukkan

kepercayaan terhadap orang dewasa

Ingin dekat dengan orang yang dipercaya sebagai tempat perlindungan yang aman

Membuat kontak secara visual dan fisik

dengan orang yang dipercaya

untuk meyakinkan

Menunjukkan kepercayaan diri dalam hal kemampuan orangtua dan guru untuk menjaga keamanan dan kesehatannya

Contoh, menjelajahi lingkungan di dalam dan luar rumah tanpa ketakutan; memanggil orang dewasa ketika butuh bantuan

Menganggap orangtua dan guru sebagai sumber pengetahuan dan contoh

yang positif

Contoh, meniru orangtua saat pergi ke kantor atau saat di rumah selama permainan drama; meminta saran guru bagaimana melihat

masalah yang sebenarnya

Mengetahui perbedaan antara orang dewasa yang bisa membantu (anggota keluarga, teman, pegawai) dan mereka yang tidak bisa membantu (orang asing)

Contoh, mengetahui siapa yang diizinkan memberinya obat; berbicara tentang mengapa anak-anak tidak boleh pergi dengan orang asing

Mengenali

dan

mengatur perasaannya sendiri dengan baik

Menangis untuk mengungkapkan ketidaksenangan

Menggunakan ekspresi wajah untuk menunjukkan perasaan

Contoh, mengangguk saat ditanya apakah ia sedang

bersedih

Mengidentifikasi dan menandai perasaannya sendiri

Contoh, mengatakan, “Saya bosan denganmu”; “Saya ingin sekali melukis hari ini”

Mampu menjelaskan perasaan dan prinsip mereka

Contoh, mengatakan, “Saya senang karena ayah saya pulang ke rumah”; “Saya bosan karena mereka tidak akan mengizinkana saya bermain dengan mereka”

Mampu mengatur persaannya sendiri

Contoh, berangsur-angsur tenang saat sedang marah dan menggunakan kata-kata untuk menerangkan alasannya; memilih untuk menyendiri ketika sedang kesal

Mempertahankan

hak-haknya

Memprotes

saat tersinggung

dan saat disalahkan dengan menangis atau berteriak

Mengambil atau mendorong ketika mencari mainan yang diinginkan

Mempertahankan kebutuhan dan keinginannya dengan bahasa verbal dan gesture

Contoh, tetap mempertahankan kelas favorit yang diinginkan orang lain; membiarkan guru mengetahui bahwa anak lain menolak untuk memberikan kesempatan untuk naik ke bis

Mempertahankan kebutuhan

sendiri dan menginginkannya tanpa bersikap agresif

Contoh, mengatakan, “ketika jam pasir berjalan; beritahu teman yang ingin untuk melukis di kayu, “Saya belum melakukannya”, dan terus bekerja.

Bertindak untuk menghindari kemungkinan adanya perdebatan tentang hak

Contoh, menulis, tanda “jangan mengetuk pintu” di depan pintu; membagi bak pasir untuk wilayahnya dan temannya

2. Aspek Tanggungjawab Untuk Diri Sendiri Dan Orang Lain

Tujuan Kurikulum

Tanda

2-3 Tahun

3-4 Tahun

4-5 Tahun

Menunjukkan

pengarahan dan kemandirian diri

Bermaksud untuk menunjukkan kebutuhan dan keinginan (mungkin dengan bahasanonverbal)

Memilih mainan atau kegiatan; bermain sebentar

Memilih dan terlibat dalam salah satu kegiatan

Contoh, selama waktu bermaui, memutuskan untuk bermain domino pada mainan di lantai dan tempat bermain; setelah bangun dari tidur siang, mengambil buku di perpustakaan dan melihat-lihatnya

Menyelesaikan berbagai tugas yang dipilih sendiri dengan bantuan orang dewasa

Contoh, membuat puzzle; mengumpulkan material, lem, kertas, dan gunting dan bekerja sampai selesai; membuat kebun binatang dengan balok, mainan binatang dan manusia, dan mobil-mobilan

Menulis dan menyelesaikan tugasnya tanpa bantuan orang dewasa

Contoh, menggambar

di dinding tanpa melibatkan karya orang lain; membuat cerita tentang perjalanan keluarga yang terdiri dari rangkaian 5 gambar

6.

Bertanggungjawab

atas kesehatannya

sendiri

Mengizinkan orang dewasa membantu kebutuhan pribadinya tanpa perlawanan seperti menyikat gigi atau mencuci tangan

Menggunakan kemampuannya atau dengan bantuan orang dewasa untuk menyikat gigi atau menaruh baju. Pada tempatnya

Menggunakan kemampuan untuk menolong diri sendiri dengan bantuan (kadang-kadang)

Contoh, mencoba makanan baru ketika disuruh oleh guru; mencuci tangan dengan sabun dan air sesuai dengan cara yang diajarkan

Menggunakan kemampuanuntuk menolong diri sendiri dan berpartisipasi dalam rutinitas tanpa pengingat

Contoh, pergi mencari lap setelah menumpahkan jus; membantu membuang sampah sepulang dari piknik

Memahami pentingnya kemampuan pertolongan diri dan peranannya dalam kesehatan hidup

Contoh, mencoba makanan baru dan memberitahu apa yang baik untuk kam; mengetahui pentingnya menyuci tangan dan menyikat gigi

Menghargai dan

peduli pada lingkungan dan peralatan kelas

Dengan bantuan orang dewasa atau secara mandiri, berhubungan dengan/menjelajahi materi dalam waktu singkat

Ketika diminta, berpartisipasi dalam kegiatan rutin kebersihan

Menggunakan materi dengan benar

Contoh, melukis di kayu; membuka halaman buku dengan pelan-pelan

Menyimpan material sebelum memulai kegiatan lain

Contoh, mematikan tape sebelum meninggalkan ruang audio; mengembalikan puzzle ke lemari

Mulai bertanggungjawab dan peduli terhadap lingkungan kelas

Contoh, mengambil sapu dan keranang sampah untuk memindahkan pasir; memindahkan peralatan untuk membersihkan area bermain

Mengikuti rutinitas

Kelas

Membiarkan orang dewasa mengarahkannya melalui rutinitas

Mengikuti rutinitas kelas dengan bantuan seperti pengingat, gambar sebagai tanda, atau bantuan fisik

Berpartisipasi dalam kegiatan kelas jika dibantu (contoh, berputar-putar, membersihkan, tidur siang, ke kamar kecil, makan, dll)

Contoh, setelah membersihkan, pindah ke karpet untuk berputar-putar ketika guru memainkan harpa

Memahami dan mengikuti prosedur kelas tanpa disuruh

Contoh, pergi mencuci tangan dan menyikat gigi setelah makan siang

Mengikuti dan memahami tujuan prosedur kelas

Contoh, memberitahu teman untuk menyuci tangan dulu sbeelum makan

Mengikuti peraturan

Kelas

Mengikuti pengarahan dan batasan singkat ketika diberitahu oleh orang dewasa

Mengikuti peraturan kelas dengan bantuan seperti pengingat, gambar sebagai tanda, atau bantuan fisik

Mengikuti peraturan kelas dengan pengingat

Contoh, menanggapi secara positif terhadap petunjuk “ungkapkan perasaan kamu”

Memahami dan mengikuti peraturan kelas tanpa pengingat

Contoh, mengembalikan puzzle ke dalam lemari sebelum meninggalkan ruang belajar

Mengikuti dan memahami alasan adanya peraturan kelas

Contoh, memberitahu teman-teman untuk menaruh karya seni di lemari agar aman; mengingatkan teman untuk tidak berlari-lari dalam kelas sehingga tidak ada yang terluka

3. Sikap Pro Sosial

Tujuan Kurikulum

Tanda

2-3 Tahun

3-4 Tahun

4-5 Tahun

Bermain

dengan baik bersama anak-anak yang lain

Menerima kontak fisik dengan orang lain

Bermain dengan anak-anak yang lain

Menikmati permainan petak umpet

Bekerja/bermain secara kelompok dengan anak-anak lain

Contoh, menggambar atau melukis disamping teman, kadang-kadang memberi kritik; berkomunikasi dengan anak-anak yang lain melalui telpon-telponan

Bergabung dan bermain dengan kelompok

Contoh, bergabung dengan anak-anak lain yang peduli apda bayi dalam drama; bermain dengan teman tentang apa yang akan dibutuhkan untuk membuat restoran di kelas

Mempertahankan pertemanan sebelumnya setidaknya dengan salah satu anak yang lain

Contoh, mengatakan, “Kita berteman lagi, ok?” setelah bermasalah dengan teman yang bersangkutan; memberitahu anak yang lain sebagai teman terbaiknya

Mengenali

dan menanggapi perasaan orang lain dengan baik

Tanda

Menyadari ungkapan perasaan orang lain

Contoh, melihat dan merespon dengan menangis atau tertawa

Meniru ungkapan perasaan anak-anak yang lain

Menyadari perasaan anak yang lain dan meresponnya dengan cara yang sama

Contoh, tertawa atau tersenyum ketika anak yang lain senang; mengatakan bahwa seorang anak sedang sedih karena ibunya pergi

Menunjukkan peningkatan kesadaran bahwa semua orang bisa memiliki perasaan yang berbeda pada situasi yang sama

Contoh, mengatakana bahwa anak-anak yang lain takut pada petir, but, “Saya tidak takut”; berperan seperti orangtua yang sedang marah selama permainan drama

Mengenali apa yang diinginkan dan atau dibutuhkan oleh orang lain

Contoh, membawa buku tentang truk untuk menunjukkan anak yang suka truk; membantu teman yang kesulitan membuka kotak susu

Berbagi

dan menghargai hak orang lain

Bermain dengan anak lain menggunakan permainan yang sama atau mirip dengan bantuan orang dewasa

Bermain dengan anak lain menggunakan permainan yang mirip atau sama tanpa masalah

Dengan dorongan, berbagi atau bergiliran dengan yang lain

Contoh,membiarkan jam pasir mengatur giliran menggunakan permainan favorit; memprotes permintaan guru yang membiarkan anak-anak lain menaiki kereta dorong bayi

Berbagi mainan atau memberikan giliran atas permintaan anak-anak yang lain

Contoh, tanpa menangis atau menuntut giliran, menyibukkan diri sambil menunggu yang lain pergi; bermain di meja pasir tanpa merebut benda yang dipakai orang lain.

Berbagi dan mempertahankan hak orang lain untuk mendapat giliran

Contoh, mengingatkan anak yang tidak ingin memberikan kesempatan bahwa sekarang adalah giliran anak yang lain; meminta guru untuk melerai ketika dua orang anak berebut giliran

Berpikir

untuk mengatasi konflik

Menerima solusi dari orang dewasa untuk mengatasi konflik

Mencari bantuan orang dewasa dalam mengatasi konflik

Contoh, menangis, mendekati orang dewasa, atau meminta pertolongan

Menyetujui perundingan ketika disarankan oleh teman atau guru

Contoh, setuju untuk bermain dengan mainan lain sambil menunggu giliran; pergi ke tempat perundingan dengan guru atau teman untuk mengatasi masalah

Menyarankan solusi dalam mengatasi masalah; menginginkan bantuan orang dewasa saat diperlukan

Contoh, menyarankan pertukaran mainan dengan orang lain; meminta guru untuk membuat daftar antri untuk meja air

Terlibat dalam proses negoisasi untuk mencapai perundingan

Contoh, bermain dalam drama; menyarankan ke meja perundingan untuk merundingkan masalah

Pandangan Teori Ekologi, Behaviorisme Skinner, dan Ethologi terhadap Perkembangan Sosioemosional Anak

1. Teori Ekologi Bronfebrenner

Teori ekologi (ecological theory) ialah pandangan sosio kultural tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan agen-agen sosial (social agent) yang berkembang baik hingga masukkan kebudayaan yang berbasis luas. Jadi lingkungan sangat kuat mempengaruhi perkembangan anak termasuk perkembangan sosio-emosionalnya.

Kelima sistem dalam teori ekologi bronfenbrenner ialah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.

  1. Mikrosistem (microsystem) dalam teori ekologi Bronfebrenner ialah setting dalam mana individu hidup. Mikrosistem adalah yang paling dekat dengan pribadi anak yaitu meliputi keluarga, guru, individu, teman-teman sebaya, sekolah, lingkungan dan sebagainya yang sehari-hari ditemui anak. Dalam mikrositem inilah interaksi yang paling langsung dengan agen-agen sosial berlangsung, misalnya; dengan orang tua, teman sebaya dan guru. Individu tidak dipandang sebagai penerima pengalaman yang pasif dalam setting ini, tetapi sebagai seseorang yang menolong membangun setting. Bronfrenbrenner menunjukkan bahwa kebanyakan penelitian tentang dampak-dampak sosiokultural berfokus pada mikrosistem.

Pengaruh mikrosistem (keluarga) terhadap perkembangan Sosio emosional umur 2-5 tahun:

Gaya Pengasuhan

Tipe pengasuhan:

 Pengasuhan Otoriter ialah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar pada anak-anak untuk berbicara. Pengasuhan yang otoriter diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak-anak.

 Pengasuhan Otoritatif mendorong anak-anak agar mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka. Musyawarah verbal yang ekstensif dimungkinkan, dan orang tua memperlihatkan kehangatan serta kasih sayang kepada anak-anak. Pengasuhan yang otoritatif diasosiasikan dengan kompetensi sosial anak-anak.

 Pengasuhan Permisif:

– Permisif indifferent yaitu suatu gaya di mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Tipe pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak khususnya kurang kendali diri.

– Permisif indulgent yaitu suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali terhadap mereka. Pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak khususnya kurangnya kendali diri.

b. Mesosistem adalah interaksi antar faktor-faktor dalam sistem mikro meliputi hubungan antara beberapa mikrosistem atau beberapa konteks misal hubungan orangtua dengan guru, orangtua dengan teman, antar teman, guru dengan teman, dapat juga hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keluarga, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya. Para developmentalis semakin yakin pentingnya mengamati perilaku dalam setting majemuk untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang perkembangan individu.

Pengaruh mesosistem terhadap perkembangan Sosio emosional umur 2-5 tahun:

 Relasi yang baik antar teman sebaya melalui permainan dapat mempengaruhi perkembangan sosial anak. Permainan dapat meningkatkan afiliasi dengan teman sebaya, mengurangi tekanan, meningkatkan perkembangan kognitif, memberi tempat berteduh yang aman bagi prilaku yang secara potensial berbahaya, meningkatkan bahwa anak akan berbicara dan berinteraksi satu sama lain, anak-anak memperaktikkan peran yang mereka akan laksanakan dalam hidup masa depannya.

 Anak-anak yang orang tuanya menolak mereka dapat mengalami kesulitan mengembangkan hubungan positif dengan guru.

Eksosistem dalam teori Bronfenbrenner dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain – dimana individu tidak memiliki peran yang aktif – mempengaruhi apa yang individu alami dalam konteks yang dekat. Atau sederhananya menurut eksosistem melibatkan pengalaman individu yang tak memiliki peran aktif di dalamnya. Eksosistem tidak langsung menyentuh pribadi anak akan tetapi masih besar pengaruhnya seperti koran, televisi, dokter, keluarga besar, dll.

Pengaruh eksosistem terhadap perkembangan Sosio emosional umur 2-5 tahun:

 pengalaman kerja seorang ibu dapat mempengaruhi perkembangan sosial anaknya, ibu yang banyak bekerja diluar rumah biasanya menitipkan anaknya pada pembantu rumah tangga (baby sitter). Perubahan pola interaksi antara orang tua dan anak .

 televisi dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak dengan menjauhkan mereka dari pekerjaan rumah, mengajarkan mereka berbagai meodel agresi yang penuh kekerasan, memberi pandangan-pandangan yang tidak realistis terhadap dunia. Walau demikian televisi juga dapat memberi program-program yang mengandung nilai-nilai edukatif, menambah informasi anak-anak tentang dunia diluar lingkungan dekat mereka dan memberi model-model prilaku prososial. Oleh karena itu orang tua harus selektif dalam menentukan program yang boleh ditonton oleh anak.

Makrosistem meliputi kebudayaan dimana individu hidup. Kita ketahui bahwa kebudayaan mengacu pada pola prilaku, keyakinan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang diteruskan dari generasi ke generasi. Kita ketahui pula bahwa studi lintas budaya – perbandingan antara satu kebudayaan dengan satu atau lebih kebudayaan lain – memberi informasi tentang generalitas perkembangan. Makrosistem terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat istiadat, budaya, dll.

Pengaruh makrosistem terhadap perkembangan Sosio emosional umur 2-5 tahun:

 Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, misalnya mengurangi anggaran pendidikan akan mempengaruhi perkembangan anak yang dapat dilihat dari kurangnya sarana dan prasarana pendidikan(misalnya sarana permainan yang dapat meningkatkan relasi teman sebaya).

 Anak yang hidup di daerah yang masih banyak dipengaruhi adat istiadat, maka akan mempengaruhi perilaku anak dalam bersosialisasi.

Kronosistem meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris.

Pengaruh kronosistem terhadap perkembangan Sosio emosional umur 2-5 tahun:

 Dalam mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan bahwa dampak negatif sering memuncak pada tahun pertama setelah perceraian. Atau dengan mempertimbangkan keadaan sosiohistoris, dewasa ini, kaum perempuan tampaknya sangat didorong untuk meniti karier dibanding pada 20 atau 30 tahun lalu.

Teori ekologi ini mempelajari interelasi antar manusia dan lingkungannya. Ada 4 (empat) struktur dasar dalam konsep tersebut, yaitu sistem mikro, meso, exo dan makro (Bronfenbrenner dalam Berns, 1997). Sistem mikro adalah keluarga dan hubungan antara anggota keluarga. Apabila anak menjadi lebih besar dan bersekolah maka ia berada dalam sistem meso. Sistem exo adalah setting di mana anak tidak berpartisipasi aktif tetapi terkena pengaruh berbagai sistem seperti pekerjaan orang tua, teman dan tempat kerja orang tua serta berbagai lingkungan masyarakat lain. Sistem makro berbicara tentang budaya, gaya hidup dan masyarakat tempat anak berada. Semua sistem tersebut saling pengaruhmempengaruhi dan berdampak terhadap berbagai perubahan dalam perkembangan anak. Oleh karena itu, seluruh komponen sistem berpengaruh terhadap pengasuhan (nurturing) dan pendidikan anak secara holistik (Berns, R.M, 1997, 4 ed). Paradigma baru dalam pendidikan anak usia dini menekankan pada penanganan nurturing oleh semua pihak berkenaan dengan pertumbuhkembangan anak yang bersifat keutuhan jamak yang unik dan terarah. Dalam perkembangannya, anak mempunyai berbagai kebutuhan, yang perlu dipenuhi, yaitu kebutuhan primer yang mencakup pangan, sandang, dan ‘papan’ ; serta kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan penghargaan terhadap dirinya sebagaimana teori kebutuhan dari Maslow (1978). Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan memungkinkan anak mendapat peluang mengaktualisasikan dirinya, dan hal ini dapat menghadirkan pelatuk untuk mengembangkan seluruh potensi secara utuh. Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan ini banyak tergantung dari cara lingkungan berinteraksi dengan anak-anak. Perkembangan anak ditentukan oleh berbagai fungsi lingkungan yang saling berinteraksi dengan individu, melalui pendekatan yang sifatnya memberikan perhatian, kasih sayang dan peluang untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan taraf dan kebutuhan perkembangannya (Developmentally Appropriate Practice, Horowitz, dkk. 2005).

Menurut Bronfenbrenner dalam teorinya tentang family ecology and the child development dinyatakan bahwa anak merupakan suatu bagian dari sistem keluarga yang pertumbuhan dan perkembangannya mendapatkan pengaruh terutama dari keluarga kemudian dari lingkungan luar keluarga, mulai dari lingkungan mikro, lingkungan messo, lingkungan exo dan lingkungan makro.

Senada dengan Bronfenbernner, Hawlwy dalam Himmam & Faturochman,1994 mengungkapkan bahwa perilaku manusia merupakan bagian dari kompleksitas ekosistem dengan beberapa asumsi dasar sebagai berikut:

1.      Perilaku manusia terkait dengan konteks lingkungan

2.      Interaksi timbal balik yang menguntungkan antara manusia dengan lingkungan

3.      Interaksi manusia dengan lingkungan bersifat dinamis

4.      Interaksi manusia dengan lingkungan terjadi dalam berbagai level dan tergantung pada fungsinnya.

2. Pandangan Etologis mengenai perkembangan anak

Teori Bowlby ( Teori Kelekatan)

Bowlby (Hetherington dan Parke, 1999) dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Menurut teori Etologi (Berndt, 1992) tingkah laku lekat pada anak manusia diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku.

Bowlby (Hetherington dan Parke,1999) percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment).

Teori etologi juga menggunakan istilah “Psychological Bonding” yaitu hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan anak, yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berkonotasi dengan kehidupan sosial (Bowley dalam Hadiyanti,1992).

Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya yaitu : lingkungan dasar tempat berkembang.

Dalam kehidupannya seringkali manusia menghadapi ancaman, untuk mendapat perlindungan, anak-anak memerlukan mekanisme untuk menjaga mereka dan dekat dengan orangtuanya dengan kata lain mereka harus mengembangkan tingkah laku kelekatan (attachment).

Fase-fase kelekatan :

1.      Lahir sampai 3 bulan (respon tak terpilah kepada manusia),

2.      3 sampai 6 bulan (fokus pada orang-orang yang dikenal),

3.      6 bulan sampai 3 tahun (kemelekatan yang intens dan pencarian kedekatan yang aktif),

4.      3 tahun sampai akhir masa kanak-kanak (tingkah laku persahabatan).

Sebelum menginjak usia tiga atau empat tahun, anak-anak berkonsentrasi hanya pada kebutuhan mereka sendiri untuk mempertahankan kedekatan tertentu kepada pengasuh atau orang tuanya. Bagi anak dua tahun, pengetahuan bahwa ibu atau ayah ”pergi ke sebelah sebentar untuk meminjam” tidak berarti apapun baginya; sebaliknya, anak ingin ikut juga ke sana. Namun sebaliknya dengan anak usia tiga tahun, mereka sudah memahami rencana dan dapat membayangkan apa yang akan dilakukan orang tuanya saat pergi keluar sebentar. Akibatnya, anak lebih bersedia membiarkan orang tuanya pergi. Anak mulai bertindak lebih seperti rekanan di dalam hubungan dengan orang tuanya tersebut. Bowlby mengakui bahwa hanya sedikit saja yang bisa diketahui mengenai fase keempat ini, apalagi kelekatan di usia-usia selanjutnya. Orang dewasa yang bisa keluar dari dominasi orang tua sekalipun, masih membentuk sebuah kelekatan lewat substitusi yang bersifat keorangtuaan. Contohnya orang dewasa sering menganggap dirinya seorang independen, namun masih terus mencari kedekatan dengan orang-orang yaang dicintai saat krisis menimpa. Bahkan mereka yang lebih tua usianya menemukan kalau mereka semakin bergantung pada generasi yang lebih muda.

Pola-pola kelekatan menurut Mary Ainsworth

Menurut Ainsworth (dalam Belsky, 1988) hubungan kelekatan berkembang melalui pengalaman bayi dengan pengasuh ditahun-tahun awal kehidupannya. Intinya adalah kepekaan ibu dalam memberikan respon atas sinyal yang diberikan bayi, sesegera mungkin atau menunda, respon yang diberikan tepat atau tidak.

Kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus. Hubungan yang dibina akan bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak. Sebagian besar anak telah membentuk kelekatan dengan pengasuh utama (primary care giver) pada usia sekitar delapan bulan dengan proporsi 50% pada ibu, 33% pada ayah dan sisanya pada orang lain (Sutcliffe,2002).

Kelekatan bukanlah ikatan yang terjadi secara alamiah. Ada serangkaian proses yang harus dilalui untuk membentuk kelekatan tersebut.

Dalam hal ini Ainsworth bersama rekannya mengamati kemunculan tiga pola dasar :

1. bayi-bayi yang tetap merasa aman,

bayi yang akan merasa aman dan akan mengeksplorasi ruangan bermain selama ibunya tetap berada disampingnya.

2. bayi-bayi yang tidak merasa aman dan ingin menghindar,

bayi yang menunjukkan pola ini terlihat cukup independen selama menjalani situasi asing. Segera setelah melihat ruangan bermain langsung mengeksplorasi mainan yang ada.

3.bayi-bayi yang tidak merasa aman namun bersikap ambivalen,

dalam situasi asing, bayi-bayi model ini begitu lengket dengan ibunya kemanapun ibunya pergi dan tidak mau mengeksplorasi ruang bermain.

Anak yang memiliki orang tua yang mencintai dan dapat memenuhi kebutuhannya akan mengembangkan model hubungan yang positif yang didasarkan pada rasa percaya (trust). Selanjutnya secara simultan anak akan mengembangkan model yang paralel dalam dirinya.

Anak dengan orang tua yang mencintai akan memandang dirinya “berharga”. Model ini selanjutnya akan digeneralisasikan anak dari orang tua pada orang lain, misalnya pada guru dan teman sebaya. Anak akan berpendapat bahwa guru dan teman adalah orang yang dapat dipercaya. Sebaliknya anak yang memiliki pengasuh yang tidak menyenangkan akan mengembangkan kecurigaan (mistrust) dan tumbuh sebagai anak yang pencemas dan kurang mampu menjalin hubungan sosial.

D. PERKEMBANGAN MORAL

Piaget

Perkembangan moral berkaitan dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dalam berinteraksi dengan orang lain. Para pakar perkembangan anak mempelajari tentang bagaimana anak-anak berpikir, berperilaku dan menyadari tentang aturan-aturan tersebut. Minat terhadap bagaimana perkembangan moral yang dialami oleh anak membuat Piaget secara intensif mengobservasi dan melakukan wawancara dengan anak-anak dari usia 4-12 tahun.

Ada dua macam studi yang dilakukan oleh Piaget mengenai perkembangan moral anak dan remaja:

1.      Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng, sambil mempelajari bagaimana mereka bermain dan memikirkan aturan-aturan permainan.

2.      Menanyakan kepada anak-anak pertanyaan tentang aturan-aturan etis, misalnya mencuri, berbohong, hukuman dan keadilan.

Dari hasil studi yang telah dilakukan tersebut, Piaget menyimpulkan bahwa anak-anak berpikir dengan 2 cara yang sangat berbeda tentang moralitas, tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. Antara lain:

1. Heteronomous Morality

Ø      Merupakan tahap pertama perkembangan moral menurut  teori Piaget yang terjadi kira-kira pada usia 4-7 tahun. Keadilan dan aturan-aturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah, yang lepas dari kendali manusia.

Ø      Pemikir Heteronomous menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat dari perilaku itu, bukan maksud dari pelaku.

Ø      Misal: memecahkan 12 gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan 1 gelas dengan sengaja, ketika mencoba mencuri sepotong kue.

Ø      Pemikir Heteronomous yakin bahwa aturan tidak boleh berubah dan digugurkan oleh semua otoritas yang berkuasa.

Ø     Ketika Piaget menyarankan agar aturan diganti dengan aturan baru (dalam permainan kelereng), anak-anak kecil menolak. Mereka bersikeras bahwa aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah.

Ø      Meyakini keadilan yang immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar, hukuman akan dikenakan segera.

Ø      Yakin bahwa pelanggaran dihubungkan secara otomatis dengan hukuman.

2. Autonomous Morality,

o       Tahap kedua perkembangan moral menurut teori Piaget, yang diperlihatkan oleh anak-anak yang lebih tua (kira-kira usia 10 tahun atau lebih). Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud-maksud pelaku dan juga akibat-akibatnya

o       Bagi pemikir Autonomos, maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting.

o       Anak-anak yang lebih tua, yang merupakan pemikir Autonomos, dapat menerima perubahan dan mengakui bahwa aturan hanyalah masalah kenyamanan, perjanjian yang sudah disetujui secara sosial, tunduk pada perubahan menurut kesepakatan.

o       Menyadari bahwa hukuman ditengahi secara sosial dan hanya terjadi apabila seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan sehingga hukuman pun menjadi tak terelakkan.

Piaget berpendapat bahwa dalam berkembang anak juga menjadi lebih pintar dalam berpikir tentang persoalan sosial, terutama tentang kemungkinan-kemungkinan dan kerja sama. Pemahaman sosial ini diyakini Piaget terjadi melalui relasi dengan teman sebaya yang saling memberi dan menerima. Dalam kelompok teman sebaya, setiap anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama, merencanakan sesuatu dengan merundingkannya, ketidaksetujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati. Relasi antara orang tua dan anak, orang tua memiliki kekuasaan, sementara anak tidak, tampaknya kurang mengembangkan pemikiran moral, karena aturan selalu diteruskan dengan cara otoriter.

Untuk memperjelas teori Piaget yang telah dipaparkan diatas, dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel

Teori Dua Tahap Perkembangan Moral Piaget

Umur

Tahap

Ciri Khas

4-7 tahun

7-10 tahun

11 tahun

Ke atas

Realisme moral

(pra operasional)

Masa transisi (konkret-operasional)

Otonomi moral, realisme dan resiprositas (formal operasional)

1.   Memusatkan pada akibat-akibat perbuatan

2.   Aturan-aturan tak berubah

3.   Hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis

Perubahan secara bertahap ke pemilikan moral tahap kedua

1.Mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral

2.Menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah

Daftar Rujukan

Milfayetty, Sri. 2011. Psikologi Pendidikan. Medan; Program Pasca Sarjana UNIMED

Walgito, B. 1999. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi

Alwisol. 2007. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Anonymous. 2010. wikipedia. (Online)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif. Diakses 15 Nopember 2010).

Monolog Awan 1

12 Apr


Awanku..

Berkali tanya tentangmu, dalam diam guratan senyum pun tak tersirat

di sepanjang ucapmu dalam ucapan kita

kau sebut ingkar sejak tangis memecah malam itu

kau jajaki sepertiga jiwa ini meski cita mulai terluka

Monolog Awan 2

12 Apr


Awanku..

kini senja merindu kita dan kau lagi berpura

demi asa yang terus meronta

bukankah lelah mulai sempurna

pada cinta memuja lara

Monolog Awan 3

12 Apr
 

Oh Awanku..

sekejap lamunan membias pelangi

berliku kasih semula perih

terendap abadi menanti ragu

meski terungkap semu di wajah mendung yang kan terus membisu

Kisah Bernada Pilu

12 Apr

Malam ini  guratan  kegundahan takkan pernah terpancar lagi . Air  mataku  hanya menetes sebentar mengikhlaskan  sebagian  jiwa yang telah jauh pergi.

Mungkin sudah takdirku untuk merelakannya!”

****


Berkali-kali kegoisannya selalu menghujam batin ini, mengendap hingga kini. Setiap harinya hanya ada hinaan yang kau tamparkan di balik ketulusanku.  Membandingkanku dengan wanita itu membuat batin ini semakin perih.

Ingin rasanya rahasia  kita kuungkapkan pada wanita itu.

“dua hati berteduh dari emosi-emosi berkepanjangan.

emosi-emosi kemunafikan dan menjauh dari kebringasan waktu.

dua hati itu mengadu dan memadu saling mencumbu…..”

Ini bukan pembalasan, melainkan secuil perjalanan pencarianmu untuk medapatkan keindahan fisik semata. Keindahan yang suatu saat bisa membuatmu merasa indah dan itu bukan aku.

Mungkin ku tak kelihatan indah atau karena ku tak bisa melengkapi keindahan ragamu. Hanya notes kecil yang bisa mewakili dirimu sebagai pelampiasan marahku.

“Hatiku naif  mengukur kesetiaan pujangga

pada syair-syair kebohongan, hatimu mengalihkannya dengan senyuman miris…”

Berhari-berhari kata-kata indah selalu meluncur dari ucapmu tapi tak pernah puitis kau menghadiahkannya padaku. Hanya sempurna dan tidak sempurna yang kau agung-agungkan pada sosok wanita itu, dan lagi-lagi bukan aku.

Berulang-ulang pujian itu `berdengung di telingaku, “siapakah wanita itu”

Berharap suatu masa ku bisa mengenalnya lebih dekat sebab teringat akan obrolan ku dengannya kemarin malam.

“Kau sombong, setiap melihat butik pakaian kau langsung berteriak histeris”

“Itu memang kebiasaanku, maniak belanja”

“Kau bukan orang kaya tapi caramu seperti orang kaya, lihat dia walaupun  orang tuanya lebih kaya dari orang tuamu tapi dia tidak sombong sepertimu!”

Ingin rasanya ku menamparmu di depan  mereka, tapi jika itu kulakukan akan memperburuk suasana makan malam ini.

Terlintas kembali di benakku, siapa wanita itu dan mengapa ku selalu terpojok dengan pujian terhadapnya. Dan ini kemarahanku yang ke dua padamu.

“Hatimu kalut melepas hati-hati yang sepi merentangkan sosok-sosok pembeda.

hatimu telah jatuh cinta

pada arus yang menggiringmu ke arah lembayung kebinasaan

yang pasti menimpamu, itu kata hatiku”

Ingin rasanya ku bertanya tentang semua perubahan yang ada pada dirinya namun hanya keangkuhan yang kau lampiaskan untukku seperti malam itu.

“Kau bukan siapa-siapa untukku, kita hanya teman bahkan teman biasa dan kau  jangan pernah melarangku untuk tidak berteman dengan wanita manapun”

“Tapi aku hanya penasaran siapa wanita yang bisa membuatmu berubah menjadi angkuh padaku”

“Suatu saat kau pasti akan kukenalkan karena dia wanita pujaanku sejak dulu”

Kata-kata yang sengaja diucapkannya membuat dadaku sesak dan dan lagi-lagi bukan aku.

Mungkinkah aku cemburu padanya, sedang ia mengembara bersama impiannya.

“kepercayaan berlari mengejar jejak-jejak suram

yang menerbangkan keinginanmu

untuk hati paling terkecil dari benakmu.

hari ini dua hati kulihat bergelayutan”

Dan itu cemburu pertamaku untukmu.

Teringat akan janji kita sewaktu di puncak setahun lalu, dan kau memberi secercah harapan indah yang terselubung di balik perjanjian abstrak yang selalu ku ingat sampai sekarang dan sampai kapanpun.

“Ada hati yang berdiri di atas konsekuensi.

hati yang lain mencoba menerobos pagar ketegara”

Aku bosan dengan kisah ini segera ku berkemas-kemas menuju terminal pencarianku.

****

Tiga bulan pun berlalu tanpa ada nada-nada dering darinya, pesan-pesan singkat bertegur sapa, kemarahan yang tak berujung. Akhirnya sepi pun semakin terperi andai ia suatu saat kembali. Walau ada rasa rindu yang membelenggu ragu namun takkan bisa menghempaskan cemburuku padanya. Entah sampai kapan, aku terus menunggu dan lagi-lagi bukan aku.

“Malam berganti malam ada hati yang mesra berderai air mata,

hatimu hanya menambah dengan lecutan pedih.

tidakkah hatimu memiringkan puncak egois

aku hanya berjanji

ingin mengatup tabir dari mimpi-mimpi usang yang telah usai”

Sebelum fajar menjelang niat hati ingin bertanya kabar dengannya sebab mimpi-mimpi tentangnya terus berdatangan lewat tidurku. Dengan jari-jari bergetar ku memberanikan diri menekan tombol-tombol pada ponselku sembari memikirkannya.

Assalammualaikum, apakah kamu baik-baik saja sekarang? Perasaanku tidak enak tentangmu selama ini”

Berjam-jam lamanya ku menunggu balasan darinya tapi tak tampak juga, mungkin ia telah bahagia ataupun tak mengenaliku lagi. Keesokan paginya setelah ku bermunajat pada Sang Pencipta, ternyata ia telah membalasnya lewat kata-kata yang sangat meleburkan segala harapanku.

“Aku baik-baik saja, kenapa baru sekarang kau menghubungiku tapi sekarang ku sudah punya pacar”

“Semoga kau berbahagia dengan wanita pilihanmu, dan biarkan ku bawa hati ini sendirian, andaiku menyatakannya padamu pasti kan sia-sia sebab kau takkan memilihku sampai kapanpun”

“Bagaimana bisa kau katakan ku tidak memilihmu ? namun kau tidak pernah peka terhadap sikapku selama ini”

“Tapi kau pernah mengatakan padaku, jika suatu saat nanti ku bisa berubah jadi baik kau akan memilihku, sekarang tak ada gunanya ku memohon padamu”

“Aku sangat mencintainya dan aku tak bisa mengkhianatinya”

“Sudahlah, biarkan ku bawa hatiku yang patah  bersama kisah kita selama ini, dan jangan pernah kembali padaku andai bahagia itu meninggalkanmu”

Tuhan inikah jawaban penantianku selama ini, saat ku harus mencari jawaban kecemburuanku padanya namun kini ia telah memilihnya dan lagi-lagi bukan aku.

“Pagi ini embun tak membasahi wajah-wajah gerimis itu

rantingnya dipatahkan oleh dahannya sendiri…

walaupun ia telah dipatahkan oleh jawaban itu

takkan kubiarkan ia patah selamanya..

karena sambungan nafasku kan menyatukannya”

SENANDUNG SENJA

15 Mar

 

 

gemuruh debur jantungku..

saat langkah di kaki cermin..

terlihat sebilah daun basah

yang tumpah dari jambangan

dan jutaan tempias air beterbangan

lalu hujan berpamitan

sebab  sinar menyeka dalam rembulan..

Sajak Permohonan

15 Mar

untuk Sartika Sari

 

pulanglah..

sembari terbaring di ranjang mimpi

saat senyap menoreh kalbu

ku ingin melihat wajah teduhmu

yang terlelap bersama malam

tanpa terpagut sepi yang tak bertepi..